Senin, 01 September 2014

Memaknai Hari Perempuan Internasional 2013

MEMAKNAI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 2013 *
Oleh : Pdt. Dr. Karolina Augustien Kaunang
Tidak banyak orang yang tahu bahwa tanggal 8 Maret adalah hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Jurnal Perempuan pernah menulis bahwa hari ini sebagai hari yang tidak populer, tentu di Indonesia. Hari yang populer adalah Hari Kartini (21 April) dan Hari Ibu (22 Desember).
Tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional pada tahun 1910 pada acara Kongres Perempuan Pekerja Internasional di Kopenhagen. Penetapan hari ini diusulkan oleh Clara Zetkin, seorang orator dan pendiri surat kabar De  Gleicheit (Persamaan), ia juga sebagai anggota International Ladies Garment Union dan anggota Partai Sosialis Jerman. Penetapan hari ini berawal dari aktivitas gerakan kaum buruh di seluruh Eropah dan Amerika Utara.
Kemudian pada tahun 1975 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaksanakan Hari Perempuan Internasional di kota Meksiko, sekaligus menetapkan tahun ini sebagai Tahun Perempuan Internasional. Selanjutnya menetapkan tahun 1975-1985 sebagai Dekade untuk Perempuan. Sejak saat itu, PBB merayakan setiap tahun dengan tema-tema a.l. Perempuan dan Perdamaian: Perempuan Memenej Konflik (2001), Perempuan dan HIV/AIDS (2004), Perempuan dalam Pengambilan Keputusan (2006), Perempuan dan Laki-laki Bersatu untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (2009), Persamaan Hak, Kesempatan yang sama : Kemajuan untuk Semua (2010), Pemberdayaan Perempuan Desa _ Mengakhiri Kelaparan dan Kemiskinan (2012). Dan tahun ini bertema The Gender Agenda : Gaining Momentum
Mengapa hari ini didedikasikan khusus untuk perempuan? Ada dua alasan yaitu mengakui fakta bahwa terjaminnya kedamaian dan kemajuan sosial serta kegembiraan perempuan; dan menyatakan kontribusi perempuan kepada penguatan keamanan dan kedamaian internasional. Bagi kaum perempuan sedunia, simbolisme hari ini mempunyai arti yang luas yaitu kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana mereka berjuang untuk persamaan, perdamaian dan pembangunan. Juga kesempatan untuk bersatu, membangun jejaring dan bergerak untuk perubahan yang penuh arti.
Beberapa hasil yang dicapai dalam memaknai perjuangan kaum perempuan internasional ialah ditetapkannya berbagai konvensi seperti a.l. Konvensi Internasional Penghentian Perdagangan Perempuan Dewasa (1934), Hak-hak Politik Perempuan (1946), Menghentikan Perdangangan Perempuan dan Anak (1948), Pengupahan yang Sama bagi Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya (1951), Perlindungan Kehamilan (1952), Kondisi Kerja Buruh Perkebunan (1958), Anti Diskriminasi dalam Pendidikan (1960).
Gerakan bersama ini ditanggapi positif oleh gereja-gereja sedunia melalui World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), DGD menetapkan tahun 1988-1998 sebagai Ecumenical Decade of Churches in Solidarity with Women (Dekade Ekumenis dari Gereja-gereja dalam Solidaritasnya dengan Perempuan). Ada empat perhatian penting yang memanggil gereja-gereja untuk menyatakan solidaritasnya dengan perempuan, yaitu – partisipasi penuh dan kreatif dari perempuan dalam kehidupan bergereja, - melawan tindak kekerasan terhadap perempuan dalam bermacam bentuk dan dimensi, - krisis ekonomi global dan pengaruhnya kepada perempuan, - xenophobia dan rasisme dan pengaruhnya bagi perempuan.
Mencermati sejarah gerekan perempuan dan perhatian dunia pada umumnya serta gereja-gereja sedunia pada khususnya, maka saya tertarik untuk untuk memperhadapkannya bagi kehidupan kaum perempuan masa kini di tanah Minahasa. Pertama, status dan peran perempuan dalam budaya Minahasa seperti terlihat a.l. dalam cerita rakyat Lumimuut-Toar dan tradisi/adat istiadat yang menempatkannya setara dengan kaum laki-laki, nilai kemanusiaannya dihargai sama. Pada tataran pemahaman ini, seharusnya tidak ada perlakuan yang tidak adil atau tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Kedua, berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Fakultas Teologi UKIT dalam pembelajaran Teologi Feminis ditemukan kenyataan masa kini seperti a.l. kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan ini terjadi karena a.l. suami sudah punya ‘wanita idaman lain’, suami tidak boleh ditegur, suami mabuk dan kalah berjudi. Ketiga, masih dari hasil penelitian mahasiswa khususnya tentang perempuan dan ekonomi. Banyak perempuan/ibu yang menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya, terutama untuk kebutuhan anak-anaknya. Mereka adalah para ibu yang bekerja sebagai ‘tibo-tibo’ di pasar Tomohon, pedagang kaki lima di Manado dan tukang parkir di pusat perbelanjaan kota Manado. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk bekerja seperti ini sejak ditinggalkan suami dalam waktu yang cukup lama tanpa kabar berita, ada pula yang ditinggalkan oleh suami karena suami sudah terlanjur berhubungan gelap dengan perempuan lain. Padahal anak-anak  membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Penelitian yang terakhir ini menunjukkan dua hal. Pertama, perempuan punya potensi diri untuk pembangunan ekonomi keluarga. Dalam hal ini perempuan bukan hanya pencari nafkah tambahan. Perempuan yang seperti ini adalah tipe perempuan yang tidak mudah menyerah, dia  selalu siap berjuang mempertahankan apa yang menjadi haknya seperti hak mengasuh dan membiayai anak-anaknya. Dengan kekuatan dan ketrampilan yang Tuhan karuniakan kepadanya ia berjuang untuk anak-anaknya. Dia mandiri. Kedua, ada perempuan/isteri yang baru mengambil prakarsa untuk bekerja mencari uang dengan membuka usaha warung atau kantin, jadi tukang parkir, saat suami/laki-laki mengalami sakit atau sakit-sakitan, atau setelah suami meninggalkannya tanpa berita bahkan ada nyata-nyata meninggalkannya. Penelitian mahasiswa ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan jaman secara global dan di tengah masyarakat Minahasa yang berbudaya egaliter dan demokratis, terdapat pandangan dan perlakuan yang diskriminatif terhadap perempuan.
Harkat dan martabat kaum perempuan sebagai anak, isteri, ibu, anggota masyarakat dalam kehidupan bersama masih dipengaruhi secara signifikan oleh sistem masyarakat patriarkhat dan cara pandang androsentrisme. Kenyataan khusus dalam konteks masyarakat Minahasa, perempuan masih mengalami perlakuan yang tidak adil.
Di hari perempuan ini, marilah kita mengingat perempuan-perempuan yang menderita ketidak-adilan hak dan martabatnya. Kita mengingat mereka dalam doa dan karya. Kita berjuang untuk memperbaiki sistem  dan tata nilai kemanusiaan perempuan dalam kesetaraan dan keadilan dengan laki-laki. Kita mengundang laki-laki/bapak-bapak/suami untuk bekerja dan berjuang bersama membangun kehidupan yang bermartabat. Kita kembali kepada hakikat penciptaan yaitu bahwa Tuhan Allah mencipta manusia perempuan dan laki-laki sebagai Imago Dei.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah surat yang saya terima pada 10 tahun silam (2003).
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/65912_10200909597044506_1613992919_n.jpg
Tomohon, 08 Maret 2013

*Naskah awal sudah pernah dipublikasikan dalam tabloid Inspitaror, edisi Februari-Juni 2012.

Peran Perempuan Berpendidikan Teologi di Indonesia

PERAN PEREMPUAN  BERPENDIDIKAN TEOLOGI DI INDONESIA
Oleh :  Karolina Augustien Kaunang
Pengantar
Saya bersyukur kepada Tuhan beroleh kesempatan untuk menulis dalam sebuah buku yang  dipersembahkan kepada ibu Pdt. Dr.h.c.Marie Claire Barth-Frommel. Saya mengenal ibu sejak saya mahasiswa S1 melalui bukunya Mazmur. Ibu pernah datang memberi kuliah umum. Perkenalan lebih dekat saat saya menjadi utusan GMIM mengikuti beberapa kegiatan Basel Mission sejak tahun 1989 baik yang dilakukan di Basel, di Sabah, di Amerika Latin (Peru dan Chile)  dan Indonesia.  Saya belajar banyak dari cara ibu yang terus memelihara dan membangun komunikasi melalui surat menyurat, email dan kartu Natal selama ini. Tidak ada suratku yang tidak dibalasnya. Ibu selalu tidak lupa mengirimkan bukunya yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia langsung dari Penerbit. Tahun 2012 saya beroleh kesempatan berkomunikasi melalui email saat memohon kesediaan ibu untuk menyumbangkan pemikirannya melalui sebuah tulisan dalam rangka perayaan 50 tahun Fakultas Teologi UKIT. Demikian tahun 2013, saya mengundang agar ibu dapat menulis sesuatu untuk merayakan 80 tahun Pdt. Prof.Dr.W.A.Roeroe. Meski pada awalnya ibu sedikit mempersoalkan waktu yang diberikan sangat singkat, akhirnya ibu mengirimkan tulisannya. Sungguh luar biasa. Ibu masih terus menulis sampai sekarang. Saya juga pernah mendapatkan tambahan bantuan studi dari ibu sewaktu mengambil kursus bahasa Inggris di Australia atas biaya dari Basel Mission (tahun 2000). Terima kasih banyak Ibu. Semoga Ibu tetap sehat, terus menulis dan jadi berkat.
Pendahuluan
         Selama berbabad-abad, suara perempuan  dibungkamkan dan atau terbungkam. Kita hanya mengenal istilah Bapa-Bapa Gereja.  Tissa Balasuriya kemudian mencatat bahwa salah satu ciri utama teologi tradisional yang berasal dari kondisi Atlantik Utara ialah teologi yang didominasi oleh laki-laki.[1] TIdak ada Ibu-Ibu Gereja. Perempuan dimarginalisasi, berada di pinggiran saja. Padahal pada abad ke-3  ada  seorang  perempuan yang berperan dalam sejarah gereja yaitu Perpetua. Ia menjadi martir, dibunuh karena tidak mau mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa negara. Profil Perpetua ini sekaligus menegaskan bahwa perempuan berani mengambil keputusan atas imannya  meski berakibat fatal. Ada pula seorang penulis yang bernama Eudokia (abad ke-5)  yang  menulis dalam bidang sejarah gereja. Profil Eudokia ini menyatakan bahwa perempuan sejak dahulu kala telah berperan dalam bidang ilmu pengetahuan teologi[2]. Kemudian pada abad XVII muncullah teolog-teolog perempuan yang terkenal dengan teologi feminismenya.[3]
        Teologi feminis mulanya berkembang di Amerika Serikat, walaupun konferensi-konferensi, publikasi-publikasi dan pengajaran-pengajaran bertempat juga di Inggris, Eropah Barat dan Amerika Latin. Tahun 1667, Margaret Fell, menulis sebuah risalah yang berjudul “Women’s  Speaking Justified, Approved and Allowed by the Scriptures’. Dalam risalah ini ia melihat persamaan perempuan dalam Kristus dari segi hermeneutik Alkitab dan anthropologi teologis dan konsekuensinya dalam berkhotbah, mengajar dan mengatur di dalam Gereja Kristus. Pada abad XIX , Sarah Grimke (1837) menulis “Letters on the Equality of the Sexes and the Condition of Women”. Ia mendebatkan hak perempuan dalam masyarakat secara teologis dan alkitabiah. Berdasarkan Kejadian 1:27, Grimke mendefinisikan persamaan perempuan dan laki-laki pada waktu penciptaan pertama dengan menunjuk pada persekutuan milik dari Imago Dei. Perempuan dan laki-laki diberi kuasa atas alam, tetapi ternyata laki-laki tidak memberi kuasa itu kepada perempuan. Patriarkhalisme dikritiknya sebagai kejatuhan dosa atas kedudukan perempuan semula dalam rencana Allah. Ia menghimbau pemimpin-pemimpin gereja untuk membaharui kembali struktur institusi mereka dari ketidakadilan. Elisabeth Cady Stanton antara tahun 1895-1998 menulis “The Women’s Bible”,dan Matilda Joslyn Gage menulis “Women, Church and State”. Keduanya secara khusus membuktikan keadaan perempuan yang sebenarnya dalam istilah-istilah Alkitab dan teologis, serta mengkritik pemakaian Alkitab sebagai alat dominasi laki-laki.[4] Seiring dipromosikannya upaya berteologi kontekstual  pada tahun 1970-an [5], teologi feminispun mendapatkan tempat yang lebih luas dan terbuka terutama dalam lingkungan pendidikan teologi formal.  Berikut ini adalah uraian tentang  topik tulisan ini.  Data di sini lebih terfokus pada konteks lokal Minahasa, Fakultas Teologi UKIT dan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM).[6]
Perempuan dalam Pendidikan Formal Teologi
        Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (FTeol UKIT) yang berdiri terhitung sejak ia bernama Pendidikan Tinggi Theologia (PTTh) yakni pada tanggal 7 Oktober 1962,[7] sebagai salah satu  sekolah anggota Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA), memiliki mahasiswa perempuan lebih banyak daripada mahasiswa laki-laki. Para mahasiswa ini datang dari berbagai gereja yang umumnya berasal dari wilayah Sulawesi Utara dan Tengah, dan tentu saja yang paling banyak berasal dari Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Hal ini menyatakan bahwa tidak ada penghalang bagi kaum perempuan untuk masuk sekolah teologi, dan karenanya tidak ada halangan bagi kaum perempuan untuk ditahbiskan menjadi pendeta.
        Saat para calon mahasiswa diminta untuk menuliskan alasan mengapa mereka memilih studi di sini kemudian dilanjutkan dengan wawancara, hampir semua menyatakan karena mereka ingin menjadi pendeta. Begitupun dengan orang tua mahasiswa terus merindukan agar setelah anaknya tamat, segera dapat melamar di gereja untuk menjalani masa persiapan menjadi pendeta atau yang lebih dikenal dengan masa vikariat. Padahal sejak tahun 1999  jelas menyatakan bahwa  tujuan penyelenggaraan pendidikan lembaga ini ialah “….supaya memperoleh kemampuan dan ketrampilan berteologi di tengah konteksnya masa kini.”  Tahun 2002, visi lembaga ini berubah yaitu  “…. bertujuan untuk menghasilkan teolog berkualitas, …”, kemudian pada tahun 2006 visinya “Menjadi lembaga pendidikan tinggi … untuk tersedianya teolog berkualitas yakni …[8]. Jadi jelaslah bahwa lulusannya adalah seorang teolog S1 (Sarjana Teologi), bukan Pendeta.
        Sejak Fakultas Teologi UKIT didirikan pada tahun 1962 sampai kini, terutama sejak tahun 1970-an mahasiswa perempuan  lebih banyak dari mahasiswa laki-laki. Mereka berasal dari gereja-gereja yang ada di Sulawesi Utara dan Tengah, dari Ambon, dari Papua, dari Kalimantan. Tentu saja yang paling banyak berasal dari GMIM. Sempat tercatat gereja pengutus mahasiswa berjumlah 24 gereja, bahkan pada tahun 1990 ada seorang mahasiswa perempuan berasal dari luar negeri, dari gereja mitra GMIM dalam persekutuan dengan Basel Misison di Malaysia yaitu PCS (Protestan Church of Sabah).[9] 
        Peran perempuan yang dari segi kuantitas lebih banyak daripada laki-laki, juga dibarengi dengan perannya sebagai mahasiswa yang berkualitas. Hampir selalu, yang mendapat juara setiap semester dalam semua angkatan diraup oleh perempuan. Karena itu, tidaklah heran bila para dosen sekarang ini, sejak tahun 1989, lebih banyak perempuan daripada laki-laki. [10] 
       Dalam hal kepemimpinan lembaga, menjadi Dekan melalui proses pemilihan oleh para dosen, sudah 5 periode dipercayakan kepada seorang perempuan, yakni pada tahun 1970-1971 : Pdt. Adriana Lala, STh[11]; 1980-1983 : Pdt. Sientje Ervin Abram, S.Th[12]; tahun 1999-2002 : Pdt. Adriana Lala, D.Theol[13];  tahun 2006-2010 : Pdt. Karolina Augustien Kaunang. MTh[14]; tahun 2011-2015 : Pdt.Dr. Karolina Augustien Kaunang[15].  Bahkan dalam periode 2006-2010 dan 2011-2015, peran perempuan dalam kepemimpinan sangat kuat.  Pembantu Dekan Bidang Akademik[16] dan Pembantu Dekan Bidang Administrasi  Umum dan Keuangan,[17] serta Ketua Program Studi TKP[18] dijabat oleh perempuan, hanya Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan yang dijabat oleh seorang laki-laki.[19] Kepemimpinan dalam kurun hampir 7 tahun ini (sejak 2007) adalah tahun-tahun yang tersulit, sebab lembaga ini terlilit dengan  masalah internalnya berkaitan dengan gereja pendirinya (GMIM) .[20]
Data terbaru dari sekolah-sekolah teologi anggota Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) menunjukkan bahwa ada perkembangan signifikan dalam hal tenaga pengajar. Semakin banyak perempuan menjadi dosen dan dipercayakan memimpin penyelengaraan pendidikan teologi. Sekarang ini mereka yang menjabat sebagai Pemimpin adalah Pdt.Dr, Karolina Augustien Kaunang (Dekan Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon tahun 2006-2010, 2010-2015), Pdt.Dr. Retnowati,MSi (Dekan Fakultas Teologi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga), Pdt. Drs. Evie Maria Pada, STh (Dekan Fakultas Teologi Universitas Arta Wacana Kupang sejak Februari 2012 sampai 2016), Pdt.Lies Sigilipu, S.Th,MSi (Ketua Sekolah Tinggi Teologi  Gereja Kristen Sulawesi Tengah sejak tahun 2011),Pdt.Dr. Gernaida Krisna Pakpahan (Ketua Institut Teologi  Kristen Indonesia), Pdt. Irene Umbu Lolo, MTh (Ketua Sekolah Tinggi Teologi Gereja Kristen Sumba),  Pdt. Septemmy E. Lakawa, Th.D (Direktur Pascasarjana Teologi Sekolah Tinggi Teologi Jakarta sejak Oktober 2011-30 September 2015), Pdt. Mery Kolimon, PhD (Direktur Pascasarjana Fakultas Teologi Universitas Kristen Arta Wacana Kupang sejak 2012 sampai sekarang). Data ini menunjukkan bahwa peran perempuan dalam pendidikan teologi sebagai  ‘dapur gereja’ yaitu lembaga yang menghasilkan para teolog yang akan bekerja di lembaga gerejawi ataupun dalam masyarakat luas, sedang berkontribusi kuat dalam memberi perspektif baru dalam karya dan kepemimpinan. Ada juga yang berperan di sekolah tinggi teologi yang didirikan oleh pemerintah yaitu STAKN (Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri) di Manado, yaitu Pdt. Roos Bastian, S.Th.MSi kini menjabat selaku Ketua.
Peran perempuan dalam PERSETIA sebagai wadah persekutuan sekolah-sekolah teologi di Indonesia, sangat nyata dalam posisi Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara , Anggota dan Direktur Pelaksana. Dapat dicatat di sini Pdt. Dr. Margaretha Hendrik Ririmase (Wakil Ketua tahun 1997 -2006 /Fakultas Teologi UKIM, Ambon), Pdt. Karolina Augustien Kaunang, M.Th (Wakil Ketua tahun 2006-2010/Fakultas Teologi UKIT,Tomohon), Pdt. Drs. Silvana Maria Apituley (Sekretaris tahun 2006-2010/STT Jakarta), Pdt. Gernaida Krisna Pakpahan, MTh (Bendahara tahun 2002-2006/Sekolah Tinggi Teologi Bethel Indonesia,Jakarta), Pdt. Dr.Retnowati, M.Si (Sekretaris tahun 2010-2014/Fakultas Teologi UKSW, Salatiga), Pdt. Resty Arnawa, MTh (Wakil Bendahara tahun 2010-2014/STT Intim Makassar), Pdt. Maria Assa, STh,M.Min (Anggota tahun 1998-2002/Fakultas Teologi UKIT, Tomohon), Pdt. Lies Sigilipu, STh.MSi (Anggota tahun 2002-2006 /STT GKST), Pdt. Tabita Kartika Christiani, PhD (Anggota tahun 2006-2010/Fakultas Teologi UKDW/Yogyakarta). Pdt. Bendalina Souk, STh (Direktur Pelaksana tahun 1993 -2000 ), Pdt.Nancy Souisa, STh, MSi (Direktur Pelaksana tahun 2000 - 2008). Nyata  kontribusi perempuan dalam lembaga level nasional ini, cukup signifikan.
ATESEA (The Association for Theological Education in South East Asia) yang sejak tahun 2000-an berkantor pusat di Manila-Filipina, juga mendapat sentuhan dari perempuan Indonesia. Mereka itu ialah Pdt. Dr.  Sientje Ervin Abram sebagai Direktur Eksekutif (2001-2008), Pdt.Dr.Karolina Augustien Kaunang sebagai Anggota  Board of Trustees ( Maret 2013-2017).
PEREMPUAN BERPENDIDIKAN TEOLOGI DALAM GEREJA DAN MASYARAKAT
1.Peran dalam Gereja
Pelayanan dalam gereja-gereja, lembaga-lembaga gerejawi menjadi ladang pelayanan bagi lulusan teologi baik laki-laki maupun perempuan. Artinya, dalam kehidupan bergereja,  peraturan gereja atau organisasi kegerejaan/pendidikan teologi memberi peluang yang sama bagi laki-laki dan perempuan berpendidikan teologi untuk bekerja (melayani).
Dalam GMIM (Gereja Masehi Injili di MInahasa), sejak tahun 1980-an, yang melayani di jemaat-jemaat (teritorial) sebagai Pendeta/Ketua Jemaat, di atas 60%  adalah perempuan. Namun, di aras wilayah (kumpulan beberapa jemaat dalam satu wilayah yang berdekatan), peran perempuan sebagai Ketua Wilayah hanya sekitar 25%. Bahkan sampai di tingkat sinodal, sampai pada periode pelayanan Badan Pekerja Sinode/Badan Pekerja Majelis Sinode (1995-2000,2000-2005,2005-2010) hanya terpilih 2 perempuan berpendidikan teologi (pendeta) dari 11 orang yang dipilih dalam Sidang Sinode, bahkan dalam periode 2010-2014 hanya 1 pendeta perempuan.[21]
Yang menarik adalah, para pendeta  dengan latar belakang budaya Minahasa[22] baik yang belajar teologi di Tomohon maupun Makassar, terpilih menjadi Ketua Sinode di GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) kemudian a.l. menjadi Wakil Sekretaris Umum PGI, Ketua Sinode Am Gereja-Gereja di Sulawesi Utara dan Tengah yaitu Pdt. Agustina Lumentut, Pdt. Detty Kani  sebagai Ketua Sinode GKLB (Gereja Kristen Luwuk Banggai), Pdt. Deetje Rotinsulu  menjadi Kepala Biro Wanita PGI (1991-1996), Pdt. Liesje Makisanti  menjadi Sekretaris GPI (Gereja Protestan Indonesia), juga sebagai Anggota kemudian Wakil Sekretaris MPH PGI, Pdt. Lilly Danes menjadi Kepala Biro Wanita PGI, Pdt. Krise Gosal menjadi Sekretaris Eksekutif  Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Anak PGI. Pdt. Liesje Sumampow  menjadi Sekretaris GPI menggantikan Pdt. Liesje Makisanti.
Di tingkat dunia, dapat disebut seperti Pdt. Yunita Lasut sebagai misionaris di Jerman, sekarang di EKHN Frankfurt, Pdt. Deetje  Rotinsulu - misionaris di San Fransisco dan Los Angeles AS, Pdt. Olga Mercy Rumengan- misionaris di Jew Jersey, Pdt. Henny Poluan- misionaris di New Jersey, Pdt. Cynthia Kekung- misionaris di New Hampshire dan di California, Pdt. Olivia S.M.Rondonuwu sebagai misisonaris di Sydney Australia.  Dalam hal kelembagaan ekumenis tingkat dunia, Pdt. Deetje Rotinsulu menjabat Koordinator Asia untuk Basel Mission (1997-2001), Pdt.Joyce Ellen Manarisip sebagai Koordinator  Regional Program M21 untuk Indonesia-Malaysia ( 2011 - sampai sekarang).
Peran Perempuan dalam Masyarakat
Lulusan sekolah teologi tidak saja melayani di gereja/jemaat, tetapi juga dalam masyarakat.  Hal ini dibuktikan dengan banyaknya alumni Fakultas Teologi UKIT yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ada yang bekerja di kantor-kantor pemerintah, ada pula yang menjadi guru sekolah (SD, SMP, SMA), dosen perguruan tinggi negeri dan swasta, ada pula yang menjadi polisi.  Dalam 6 tahun terakhir ini ada banyak alumni yang diangkat menjadi guru sekolah dan dosen, di Sulawesi Utara dan Tengah,  di Maluku, di Papua. [23] Kehadiran dan peran para guru dan dosen ini,  tentu saja dalam pendidikan agama Kristen, sangat signifikan dalam memberi isi moral etik yang lebih kuat bagi para nara didiknya. Sehingga  kalau selama ini nara didik lebih dibelajarkan dari segi inteleltual (IQ), maka dengan kehadiran para guru/dosen agama pembelajaran diimbangi dengan segi spiritual (SQ). [24]
Ladang pelayanan dalam hal penataan kehidupan bermasyarakat seperti menjadi anggota legislatif juga dimasuki oleh perempuan berpendididkan teologi. Mereka itu yang sekarang sedang aktif  adalah Pdt. Meiva Lintang,STh sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Utara, Diana Rogi,STh sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara. Sebelumnya, Pdt. Johanna Paulina Setlight, MTh menjadi anggota DPRD Kabupaten Minahasa tahun 1997-1999. Ketiganya menjadi anggota DPRD dari Partai Golkar.  Masih berkaitan dengan bidang politik ialah Komisi Pemilihan Umum. Mereka itu adalah Yessy Momongan,STh.MSi sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Minahasa tahun 2003-2008, kemudian sekarang menjadi Ketua KPU Provinsi Sulawesi Utara (2013-2018). Juga Pdt. Fanny Wurangian, MTh  sebagai Anggota KPU Kabupaten Minahasa Tenggara tahun 2008-2013, Oktober 2013 – 2018.
Ladang pelayanan di lembaga swadaya masyarakatpun telah ada yang memasukinya. Sebut saja Pdt. Elga Agustien Sarapung bekerja di Interfidei di Yogyakarta sejak 1993, dan sejak tahun 2003 menjabat sebagai Direktur. Pdt. Ejodia Kakoensi bekerja di Kindernothilfe Germany[25] Indonesia (2006-2010). Vanda Lengkong yang bekerja di Plan International[26] sejak medio 2008 sampai sekarang.
Peran PERWATI/PERUATI
PERWATI atau Persekutuan Wanita Berpendidikan Teologi berdiri 26 Mei 1995 dalam suatu konsultasi para perempuan berpendidikan teologi dari seluruh Indonesia yang berlangsung di Bukit Inspirasi Tomohon (kompleks kampus Universitas Kristen Indonesia Tomohon). Konsultasi ini digagas oleh Biro Wanita PGI dan Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA). Nama PERWATI kemudian berubah  menjadi PERUATI (Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi) yang ditetapkan pada Konsultasi di Sibolangit, Sumatera Utara pada tahun 2007[27]
Selama hampir 2 dekade ini, lembaga ini terus mengembangkan fungsi kelembagaannya melalui tangan-tangan para pengurusnya. Mereka yang dipercayakan sebagai Ketua berturut-turut Pdt.Sientje Abram, D.Th, Pdt. Septemy E.Lakawa, ThM, Pdt. Ester Mariani Ga, STh, MSi, dan kini Pdt. Ruth Ketsia Wangkai, MTh (2011-2015).
Pastilah peran lembaga ini telah turut menyumbang secara signifikan akan hakikat diri dan peran kuat para perempuan berpendidikan teologi dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Untuk itu pelibatan semua anggota dalam program yang membasis dalam jemaat atau ladang pelayanannya harus mendapat perhatian. Program utamanya harus menyentuh pergumulan anggota yang bekerja di aras basis, agar lembaga ini dirindukan selalu sebagai kebutuhan bersama dan menjawab kebutuhan bersama, sambil terus mengembangkan program yang memperjuangkan kemanusiaan dan keutuhan ciptaan  pada umumnya.[28] Dapat dikatakan PERUATI adalah organisasi profesi yang utamanya berorientasi pada fungsi, bukan jabatan. “Melalui PERWATI, perempuan berpendidikan teologi diharapkan dapat memberi warna tersendiri dalam proses berteologi dan pengembangan pendidikan teologi di Indonesia. Pendidikan teologi bagi Gereja demikian penting, karena melaluinya dapat dipersiapkan Gereja yang lebih merakyat dan bergumul dengan berbagai persoalan sosial yang dialami oleh rakyat kebanyakan. Salah satu di antaranya adalah soal perempuan.”[29]
Kesimpulan Reflektif
  1. Perempuan berpendidikan teologi di Indonesia sedang berperan dalam segala bidang kehidupan masyarakat. Ini suatu kemajuan yang signifikan. Nyatalah bahwa jebolan sekolah teologi tidak hanya dapat melayani di dalam gereja, melainkan juga di dalam masyarakat luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
  2. Dari segi kwantitas perempuan berpendidikan teologi makin banyak. Sebagian besar dari mereka adalah pelayan dalam jemaat-jemaat lokal seperti a.l di GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa), GPM (Gereja Protestan Maluku), GMIT (Gereja Masehi Injili Timor). Ibu Marie Claire Barth-Frommel dalam satu artikelnya yang berjudul “Mengajar Teologi Feminis dalam Pendidikan Akademis” menulis “Masih banyak perempuan yang belum menikmati sejahtera, itu sebabnya keadilan gender dan keadilan sosial menjadi tanggung jawab pertama orang yang hendak mengembangkan masyarakat di mana setiap warga hidup wajar dan dapat menyumbang sesuatu dengan pengetahuan, ketrampilan dan hikmat pada kebaikan bersama.”[30] Tulisannya ini menantang para pelayan ini untuk lebih profesional dalam pekerjaannya.
  3. Peran perempuan berpendidikan teologi yang mengedepankan keutuhan manusia perempuan dan laki-laki dan keramahan terhadap alam harus menjadi tolok ukur karya pelayanan dan perjuangannya. Dengan demikian menjadi jelas bahwa peran perempuan berpendidikan teologi  bukan hanya untuk dirinya sendiri, apalagi untuk bersaing dengan laki-laki,  melainkan dari dirinya untuk dan bersama-sama dengan semua orang dan meliputi semua hal yang berkaitan dengan kemanusiaan dan keutuhan ciptaan.
  4. Sasaran pertama dari semua karya dan perjuangan para perempuan berpendidikan teologi ialah agar kaum perempuan di dalam keluarga, gereja dan masyarakat menikmati hidup layak dan terhormat, sederajat dan setara dengan kaum laki-laki. Melihat dan mendengar serta meneliti ternyata  masih banyak kaum perempuan yang miskin, tidak berpendidikan (formal) cukup, tidak berani bersuara membela hak-hak hidupnya, dilecehkan, dikerasi, ditindas, maka program PERUATI harus membasis.  Perempuan yang dilecehkan, dikerasi dan ditindas dapat dialami oleh perempuan dalam segala strata sosial. [31]
  5. Lembaga Pendidikan Teologi bersama dengan PERUATI dan gereja-gereja harus bersinergi dalam pelayanan dan perjuangannya yang inklusif dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan dan keumatan lainnya. Hal ini tidak sulit, sebab di lembaga-lembaga kemasyarakatan/keumatan telah dimasuki oleh para perempuan berpendidikan teologi. Hanya diperlukan kesediaan untuk sharing resources dan sharing finacial. Hal ini sangat berkaitan dengan sharing leadership.
  6. Baik dalam lembaga pendidikan teologi  maupun dalam pelayanan gereja-gereja [32], Ibu Pdt.Dr.h.c. Marie Clare Barth-Frommel telah sangat berperan signifikan  memajukan kaum perempuan dalam karya dan perjuangannya untuk kemaslahatan keluarga, gereja dan masyarakat. Kita bersyukur atas karya ibu bagi dan di antara kami kaum perempuan berpendidikan teologi pada khususnya. Sapaan orang Minahasa untuk Ibu : “Pakatuan wo Pakalawiren” (Usia lanjut dan Sejahtera) sedang menjadi kenyataan.





[1] Tissa Balasuriya, Teologi Siarah. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1994, 4-5.
[2] Lihat  B.F.Drewes, Julianus Mojau, Apa itu Teologi. Jakarta ; BPK Gunung Mulia, 2003: 35, 40.
[3] Kata feminisme digunakan pertama kali oleh Hubertine Auclert, seorang yang berasal dari Perancis. Feminisme waktu itu sebagai sebutan untuk memperjuangan hak-hak politik kaum perempuan. Istilah ini memiliki waktu persiapan yang lama berkaitan dengan kaum perempuan pencipta sejarah. Di Amerika Serikat, kaum perempuan mulai mengangkat suara mereka untuk menentang kedudukan rendah kaumnya pada penghujung tahun 1830-an. Lihat Anne M. Clifford, Memperkenalkan Teologi Feminis. Maumere : Ledalero, 2002, 17-18. Band. K.A.Kapahang-Kaunang, Perempuan. Pemahaman Teologis tentang Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993,xiv
[4] Lihat Kapahang-Kaunang, ibid, xii-xiii
[5] Di kalangan Theological Education Fund (TEF) World Council of Churches (WCC) yang waktu itu direktur tim TEF adalah Shoki Coe memperkenalkan, mendefinisikan dan mempromosikan istilah kontekstualisasi. Shoki Coe “Kotekstualisasi sebagai Jalan Menuju Pembaharuan”, dalam Douglas J. Elwood (peny.), Teologi Kristen Asia. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992, 13. David J. Hesselgrave, Edward Rommen, Kontekstualisasi Makna, Metode dan Model. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1995,48-50
[6] Saya belum melakukan pendataan secara nasional. Beberapa data yang saya catat di sini berdasarkan pengetahuan saya yang diperoleh  saat mengikuti beberapa kegiatan nasional, dan melalui sms, email, facebook.
[7] PTTh kemudian menjadi salah satu Fakultas Teologi dalam lingkungan Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada tanggal 20 Februari 1965. Lembaga pendidikan teologi ini memeliki sejarah yang panjang, yakni dimulai pada tahun 1868 dengan berdirnya Sekolah Pembantu Penginjil. Kemudian didirikan pula STOVIL (School tot Opleiding van Inlandsche Leeraren) pada tahun 1886-1942.  Selanjutnya menjadi Sekolah Pendeta, Sekolah Theologia, Akademi Theologia. Sejarah lengkapnya dapat dibaca dalam buku Petunjuk Studi Fakultas Teologi UKIT 1988/1989, 1999, 2002,2004,2006.
[8] Lihat Buku Pandauan Studi Fakultas Teologi UKIT tahun 1999, 2002 dan 2006, Perubahan ini didasarkan pada kenyataan dan kebutuhan di lapangan bahwa para tamatan tidak saja menjadi pendeta di gereja-gereja tetapi juga bekerja di dalam masyarakat. Sejak tahun 1990-an makin banyak tamatan yang berkiprah di bidang pelayanan public baik sebagai pegawai negeri seperti guru agama dan pegawai kantor, mauoun sebagai pekerja sosial.  Apalagi dengan keluarnya SK Dikti tahun 1996 yang memasukkan Teologi sebagai salah satu bidang keilmuan di Indonesia.
[9] Namanya Juraya Masandu. Kedatangannya ke Minahasa bersamaan dengan kepulangan Pdt. Augustien Kaunang yang selesai mengikuti konsultasi gereja-gereja mitra Basel Mission Asia yang berlangsung di Kota Kinabalu, tahun 1990.
[10] Sebagian besar dosen perempuan ini adalah tamatan FTeol UKIT tahun 1980-an. Setelah menjalani masa vikariat di jemaat dan diteguhkan menjadi pendeta, serta melayani di jemaat sekitar 2-3 tahun, mereka direkrut menjadi dosen melalui GMIM. Sehingga status mereka tetap sebagai pendeta GMIM yang dipekerjakan di Fakultas Teologi UKIT. Biaya hidupnya dibayar dari kas sinode GMIM.
[11] S1 tamat dari  STT Jakarta
[12]  S1 tamat dariFakultas Teologi UKIT
[13]  S2 dan S3 tamat dari The South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST-ATESEA).
[14]  S1 tamat dari Fakultas Teologi UKIT, S2 tamat dari The South East Asia Graduate School of Theology (SEAGST-ATESEA)
[15] S3 tamat dari Program Pascasarjana Teologi UKIT (PPST UKIT). Gelar-gelar akademis yang tercantum di sini sesuai dengan gelar waktu menjabat.
[16] Pdt. Dr. Lientje Kaunang,
[17] Pdt. Johanna Paulina Setlight,MTh
[18] Pdt. Helena Johana Tandiapa, MTeol, sebelumnya Pdt. Vera Loupatty, MTeol
[19] Namun sebelumnya dijabat oleh Pdt.Marhaeni Luciana Mawuntu, STh,MSi
[20] Masalah internal ini   sebagai dampak dari pemilihan dan penetapan Rektor UKIT pada Desember 2005, yang di kemudian hari, tepatnya pada periode Badan Pekerja Sinode GMIM mulai tahun 2006, tidak diakui oleh Badan Pekerja Sinode GMIM. Tetapi secara eksternal, hubungan dengan dengan pemerintah, menurut ketentuan perundang-undangan di bidang pendidikan tinggi nasional, tidak ada masalah. UKIT sah secara hukum negara.
[21] Tentu tidak termasuk Ketua/Penatua Wanita/Kaum Ibu tingkat Sinode, yang tidak berlatar belakang pendidikan teologi, ia secara otomatis menjadi Angggota BPS GMIM. Jadi bersama dengannnya hanya ada 3 perempuan dari antara 11 orang BPS GMIM.
[22] Minahasa menunjuk pada tanah adat, yang sekarang ini telah menjadi 7 kabupaten/kota yakni Kabupaten Minahasa, Kota Manado, Kota Bitung, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara. Minahasa disebut secara khusus karena memiliki sejarah yang khas berkaitan dengan keberadaan  perempuan yang melayani atau bekerja di area publik. Lihat K.A.Kapahang-Kaunang, passim. Juga,  Deetje Tiwa-Rotinsulu, Augustien Kapahang-Kaunang (editor), Perempuan Minahasa dalam Arus Globalisasi. Jakarta: Meridian, 2005.
[23]  Data ini diperoleh pada saat para alumni datang ke kantor Fakultas Teologi UKIT untuk melegaliser ijazah dan transkrip nilai untuk keperluan mengurus sertifikasi guru PNS, untuk kenaikan pangkat/jabatan. Juga yang ditemui langsung di wilayah pelayanan mereka pada saat kunjungan ‘bakudapa’ atau temu alumni  (tahun 2011, 2012, 2013) di Tahuna, Siau, Melonguane Talaud, Kotamobagu, Luwuk, Tobelo, Toli Toli.
[24] Pembelajaran di sekolah  bertujuan untuk terjadinya perubahan tingkah laku menjadi lebih baik bagi semua orang, siapa saja, bahkan terhadap lingkungan hidup. Jaman sudah berubah sekali. Pendidikan harus mencakup logika dan spiritual bersama-sama. Tidak cukup orang menjadi pandai lalu bertingkah laku yang tidak baik terhadap sesama dan lingkungannya. Hal ini diperkuat dengan terbitnya SK Mendiknas RI No.045/U/2002 tentang Krikulum Inti Nasional yang menyebutkan 4 pilar penting yaitu Learning How to Know, Learning How to Do, Learning How to Be, Leraning How to Live Together. Apalagi dengan adanya dan berfungsinya Pendidikan Agama di sekolah-sekolah.
[25] Lembaga ini bergerak di bidang Pemenuhan Kebutuhan Anak , dan Kesejahteraan Anak dan Perempuan.
[26] Lembaga yang bergerak di bidang kemanusiaan dan community development.
[27] Lihat Karolina A.Kaunang “Teologi Feminis di Fakultas Teologi UKIT”, dalam Karolina Augustien Kaunang dan Denni H.R.Pinontoan (editor), Jerih Payahmu tidak Sia-sia. 50 Tahun (1962-2012) Fakultas Teologi UKIT dalam Jerih dan Karya. (Tomohon : Fakultas Teologi UKIT bekerja sama dengan Penerbit Lintang Rasi Aksara Books, 2012), hlm. 111-113.
[28]  Lihat PERUATI, Anggaran Dasar (AD) & Anggaran Rumah Tangga (ART). Hasil Keputusan Kongres Nasional PERUATI III di Baileo Oikoumene Ambon 09-14 Agustus 2011, hlm. 1-3.
[29] John A Titaley, “Kata Pengantar”, dalam Stephen Suleeman, Bendalina Souk (penyunting), Berikanlah Aku Air Hidup Itu. (Jakarta : PERSETIA, 1997), hlm.vii.
[30] Dalam Kaunang dan Pinontoan (ed.), op.cit., hlm. 210
[31] Hasil penelitian lapangan mahasiswa peserta mata kuliah Teologi Feminis di Fakultas Teologi UKIT dalam tiga tahun terakhir ini. Juga saya peroleh dari mengikuti Diskusi Tematik yang diselengarakan oleh Swara Parangpuan Sulut bertempat di Kabupaten Minahasa dan di Kota Tomohon dalam 2 tahun terakhir ini. Lihat juga Liputan a.l. dalam Jurnal Sabuah Parangpuan Kesetaraan & Keadilan untuk MDGs 2015, edisi no. 4, Januari – Maret 2012,  no. 5 April – Juni 2012.
[32] Terutama gereja-gereja di Papua, Kalimantan dan Sulawesi Tengah.


* Untuk buku yang diedit oleh Pdt. Deetje Tiwa-Rotinsulu

Sekularisasi dalam Wacana

SEKULARISASI DALAM WACANA *
Karolina Augustien Kaunang

Sekularisasi terlalu sering diidentikkan dengan sekularisme, westernisasi, kekristenan bahkan atheisme. Sekularisasi menjadi bahan pertentangan dalam masyarakat beragama. Ada yang menerimanya sebagai suatu keharusan di jaman modern bahkan pasca modern ini, ada pula yang menolaknya sebagai arus pengkafiran yang menolak agama dan spiritualitas.  Ada pula yang menentangnya secara membabi buta dan fanatik, ada yang memujinya tanpa mengerti baik pokok maupun segala akibatnya. Demikian P.A.Heuken menulis “Kata Pengantar Sekularisasi : Bahaya atau Berkat” dalam buku Colin Williams : Iman Kristen dalam Abad Sekulir. Adanya penerimaan dan penolakan di atas mempengaruhi kehidupan beriman secara pibadi maupun komunitas. Chris Hartono menulis bahwa terdapat jemaat yang pietis dan jemaat yang sekuler  sama sekali.
Etimologi
Sekularisasi berasal dari kata Latin “saeculum” yang berarti “dari zaman ini”, atau “berhubungan dengan dunia ini”. Saeculum adalah sebuah kata menerangkan waktu, menunjukkan dunia dalam segi waktunya. Kata Latin lainnya untuk dunia ialah “mundus” yakni suatu kata yang menerangkan ruang, menunjukkan dunia dalam segi ruangnya, dunia ruang. Dalam bahasa Yunani, untuk saeculum dipakai kata “aion” yang berarti zaman atau periode, satu masa. Sedangkan untuk kata mundus dipakai kata “kosmos” yang berarti alam semesta.
Pengertian sekularisasi sangat berkaitan dengan pandangan orang Yunani dan orang Yahudi tentang dunia.Orang Yunani mengerti dunia pertama-tama sebagai suatu tempat, suatu ruang. Gambaran tentang hidup dan dunia ini disusunnya menurut ciri ruang secara bertingkat seperti dunia ini, dunia akhirat atau sorga dan segala yang sorgawi. Kebenaran dan kenyataan yang sesungguhnya tidak mengenal waktu. Sedangkan orang Yahudi melihat dan mengerti dunia dari segi waktu. Hidup di dunia ini dimengertinya atas dasar peristiwa-peristiwa yang diimaninya sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi pada suatu waktu dan tempat tertentu. Dalam pemahaman ini, dunia tidak berada dalam keadaan statis, melainkan senantiasa menjadi terus menerus, bergerak, dinamis. Bukan saja dunia ini berada dalam sejarah, tetapi dunia ini juga adalah sejarah itu sendiri. Pengertian orang Yahudi ini diungkapkan dalam satu kata Ibrani “olam”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa baik saeculum maupun mundus, baik aion maupun kosmos merupakan dua pasangan kata yang tidak dapat dipisahkan dalam pembicaraan pokok sekularisasi.

Sekularisasi dalam Gereja
Gereja pada masa sebelum aufklarung (pencerahan) memandang teologi sebagai ‘regina scientiarum’ ( ratu segala ilmu), di mana semua ilmu yang lain bertitik tolak dari pokok-pokok pemikiran yang diberikan oleh teologi. Itu berarti seluruh pandangan tentang manusia dan dunia berada dalam dominasi teologi. Teologi yang menentukan segala-galanya. Dalam suasana yang demikian, terdengarlah suara-suara seperti ‘cogito, ergo sum’ (aku berpikir, karena itu aku ada) oleh Rene Descartes (1596-1650), ‘sapere aude’ (beranilah menjadi bijaksana) oleh Immanuel Kant (1724-1804). Suara-suara ini merupakan ungkapan keyakinan bahwa manusia, orang per orang, harus memanfaatkan kemampuannya dan akalnya untuk menyelidiki dan mengerti dunia ini. Suara pemberontakan untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi yang sekuler dari yang keramat, suatu pengumuman perang melawan sikap ‘religius’ yang menguasai hidup manusia dan dunia ini. Dengan pemberontakan ini, mulailah ilmu-ilmu pengetahuan terlepas dari dominasi teologi.
Timbulnya masa Pencerahan dilatarbelakangi oleh Renaissance pada abad XV sebagai suatu usaha untuk memberi tempat kepada manusia untuk berdiri sendiri dan tidak bergantung pada kuasa-kuasa lain di luar dirinya sendiri. Juga  Reformasi pada abad XVI yang atas nama Injil menempatkan Alkitab sebagai yang berdiri sendiri, tidak sejajar dengan tradisi; Alkitab memiliki otoritas sendiri dalam gereja. Jadi apa yang terjadi dengan Copernicus (1473-1543), Galileo (1574-1642) dan Johan Kepler (1571-1630) merupakan akibat dari rentetan pemikiran ketiga zaman ini : Renaissance, Reformasi dan Aufklarung.
Selanjutnya, pada abad XVII/XVIII sampai XIX, rasio menjadi dasar pengukur atas ciptaan, di mana sebelumnya Alkitab dipandang sebagai kaidah  pengukur atas ciptaan. Abad ini disebut abad Rationalisme. Konfrontasi iman dan akal budi mulai secara terbuka. Auguste Comte (1798-1857) membagi manusia dalam tiga tahap perkembangan : teologis, metafisis dan positive (ilmiah/scientific). Agama ditempatkan sebagai perkembangan yang sudah lalu. Charles Darwin (1809-1882) mengemukakan suatu teori yang menyatakan bahwa asal semua makhluk hidup adalah dari makhluk yang lebih sederhana dan berkembang secara evolusi dalam jangka waktu yang panjang sekali ke jenis makhluk yang lebih sempurna yaitu manusia. Jadi manusia adalah puncak perkembangan tersebut. Sigmund Freud (1856-1939) muncul dengan teori analisis atas jiwa manusia yang semula dianggap ‘urusan Tuhan’. Ia mengatakan ‘agama adalah ilusi manusia belaka, dan agama merupakan obyek pelarian kejiwaan’. Berturut-turut muncul Karl Marx (1818-1883) dan Frederich Engels (1820-1895) sebagai bapa-bapa materialisme. Ludwig Feuerbach (1808-1872) mengganti konsep Allah menjadi konsep alam, dan alam adalah dasar keberadaan manusia. Akhirnya Friedrich Nietzche (1844-1900), anak seorang Pendeta, mencetuskan ide “God is Dead”, karena tidak ada Allah, manusia harus mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Abad-abad ini merupakan puncak bangunnya ateisme dan agnostisisme.
Apa yang dicapai pada abad XVIII/XIX terus berkembang. Pada abad XX semua teori sebelumnya ditinjau kembali. Teori-teori yang menggoncangkan Alkitab, sekarang digoncang oleh ilmu pengetahuan itu sendiri.   Perkembangan pemikiran dan gerakan-gerakan yang menyertainya telah membawa perubahan di kalangan para teolog. Sarjana-sarjana Kristen mulai membela Alkitab dengan cara-cara ilmu pengetahuan, seperti antara lain Rudolf Bultmann yang mengemukakan teori ‘entmythologisierung/demythologizing’, Paul Tillich yang mengemukakan “Teologi yang Menjawab” dan “Metode Korelasi”. Dua teolog ini berteologi pada jamannya, dalam konteks rasionalisme. Mereka berusaha menjelaskan ‘kebenaran’ dalam Alkitab dengan cara-cara ilmu pengetahuan. Perkembangan terkini dapat kita temui dalam kerja berteologi di sekolah/lembaga pendidikan telogi. Berbagai pendekatan ilmu pengetahuan digunakan dalam pembelajaran teologi.
Teologi tentang Sekularisasi
Pada kesempatan ini, hanya disajikan pandangan dua teolog yaitu Karl Barth, dan  Harvey Cox. Dengan latar belakang konteks berteologi dan bergereja pada masanya masing-masing, mereka menulis pandangannya berikut ini :
Karl Barth
        Barth adalah teolog pertama yang memulai kritiknya terhadap agama. Agama merupakan usaha manusia menjangkau Allah melalui upacara-upacara ibadat. Agama berlawanan dnegan ‘iman’ yang berasal dari Allah, yaitu usaha Allah mendekati manusia.  Tentang dia, Bonhoeffer berkata bahwa Barth “menurunkan Allah Yesus Kristus ke medan perjuangan melawan agama, dan pneuma (roh) melawan sarx (daging)”. Allah yang bertindak dalam dunia tidak tergantung dan tidak terikat oleh suatu apapun yang ada di dalam dunia ini, termasuk agama.  Pandangannya ini didasarkan pada Alkitab, di mana ada suatu perjuangan hebat antara iman melawan agama, yang mencapai puncaknya dan penyelesaiannya di dalam Kristus. Pendobrakan berhala Israel (=agama), bertujuan supaya manusia dapat memasuki iman yang murni dengan Allah yang hidup. Manusia hanya dapat bebas dari agama, bila memandang  Allah sebagai “yang-lain-sama-sekali”, yang tidak diurus oleh manusia lewat usaha-usaha keagamaannya. Karena itulah, maka salah satu pandangan Barth disebut “religion as umbelief”. Pola pemikiran ini dikenakan juga pada agama Kristen.
       Penyataan Allah di dalam  Yesus Kristus (inkarnasi) berarti kritik. Kritik terhadap segala usaha dari pihak manusia untuk sampai kepada Allah. Penyataan ini merupakan pernyataan sifat sekulirnya Injil. Allah yang transenden menjumpai manusia di tengah-tengah kehidupannya sebagai Tuhannnya. Transendensi Allah bukanlah transendensi yang tidak berpengapa dengan manusia.
Harvey Cox
        Cox dalam bukunya The Secular City mencatat tiga dimensi sekularisasi yang bersumber dari Alkitab, yaitu :
1.Dimensi Penciptaan
       Penciptaan sebagai salah satu komponen dasar sekularisasi adalah suatu pembebasan alam dari unsur-unsur ilahi. Manusia pra-sekuler hidup di hutan-hutan yang penuh dengan roh-roh dan kuasa gaib. Manusia menjadi satu dengan kosmos, Sejarah disejajarkan dengan kosmologia, Masyarakat disejajarkan dengan alam, waktu dan ruang. Baik dewa maupun manusia adalah bagian dari alam. Dengan berita penciptaan, maka pandangan manusia pra-sekuler ditantang. Alam dipisahkan dari Allah, manusia dari alam. Matahari, bulan dan bintang-bintang tidak lagi dianggap sebagai makhluk setengah ilahi, tetapi adalah ciptaan Allah untuk menerangi dunia bagi manusia. Susunan kekerabatan menjadi linear dan historis, bukan lagi kosmologia. Kepada manusia diserahkan tanggungjawab untuk menaklukan dunia, dan pemjadi penguasa atas makhluk lainnya. Ia harus melihat kepada Allah yang menyediakan seluruh alam ini untuk dimanfaatkan. Pelepasan dari yang sacral ini mengisyaratkan perkembangan ilmu pengetahuan alam, dan terjadinya pergeseran dari kekangan-kekangan religious tradisional kepada perubahan ilmiah dan teknologis.
2. Dimensi Eksodus sebagai Desakralisasi Politik
        Bagi orang Ibrani, YHWH berbicara melalui peristiwa sejarah yaitu pembebasan dari tanah Mesir, bukan melalui gejala-gejala alam. Pembebasan ini merupakan suatu peristiwa perubahan sosial. Eksodus adalah  suatu tindakan melawan monarkhi yaitu pembebasan dari suatu tata politik sacral dimana kerajaan berdasar pada agama. YHWH selalu dan sennatiasa membuat eksodus baru.
3. Dimensi Perjanjian Sinai sebagai Dekonsentrasi Nilai-nilai
       Orang modern sadar bahwa pandangannya relative dan ditentukan oleh situasi tertentu. Nilai-nilai manusia sekuler telah didekonsentrasikan, bukan lagi ungkapan langsung dari kehendak ilahi. Bagi manusia sekuler, symbol-simbil yang dengannya ia melihat dunia, dan nilai-nilai yang dengannya ia membuat keputusan adalah produk dari suatu sejarah tertentu. Coraknya terbatas dan tidak menyeluruh. Relativisasi nilai-nilai yang merupakan suatu dimensi integral dari sekularisasi mendapatkan akarnya pada setiap larangan terhadap pemujaan berhala. Larangan ini adalah permulaan penolakan tanpa kompromi dari setiap peniruan ilahi dalam Perjanjian Lama. Dilarang menyembah suatu buatan tangan manusia. YHWH adalah satu-satunya yang kudus dari Allah, dan tidak mungkin berasal dari buatan tangan manusia. Di sini dewa-dewa dan nilai-nilai ditelativiser.  Penolakan mutlak terhadap penyembahan berhala dan orang suci, memberikan dasar bagi suatu relativisme yang konstruktif.
       Suatu bahaya dari relativisasi ialah dapat mengarah pada anarkhisme etis dan nihilisme metafisik. Relativisasi nilai-nilai tidaklah memusnahkan dasar-dasar yang ada pada manusia. Untuk itu, pertama-tama dibutuhkan kedewasaan yang penuh. Itu berarti semua manusia harus terikat dalam proses sekularisasi.
Penutup
Pada abad XXI ini, perkembangan sekularisasi di bidang agama pada umumnya dan gereja-gereja pada khususnya, termasuk dalam pendidikan tinggi teologi, mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, kita berhadapan dengan dampaknya baik positif maupun negatif.
1.Sekularisasi sebagai suatu proses sejarah khususnya proses berpikir yang terarah pada prilaku manusia dalam kehidupan beragama, bergereja, menjadi kesempatan sekaligus tantangan beriman di masa kini. Lebih-lebih lagi  tantangan bagi dunia pendidikan tinggi teologi. Pendidikan tinggi teologi sebagai ‘dapur gereja-gereja’ bertugas untuk mengkritisi kembali berbagai ajaran gereja yang tidak mengantarnya pada Allah, yang peduli dengan keselamatan semua ciptaan-Nya.
 2. Sekularisasi bukan tujuan. Ia tidak membawa keselamatan bagi manusia, hanya Yesus Kristus. Jangan-jangan sekularisasi menjadi suatu agama baru dengan sekularisme sebagai berhalanya. Baik berhala lama dan berhala modern menjadi obyek dari proses sekularisasi dan mencegah sekularisme.
3. Gereja-gereja sebagai yang a.l. menjalankan misi-Nya ‘menjadi daging dan tinggal di antara kita’ hendaknya menjalankannya dengan kreatif dan kontekstual. Gereja-gereja terus berbenah diri dalam misinya di dunia, yang pada satu pihak berhadapan dengan pandangan eksklusif, dan pandangan inklusif bahkan pluralis di pihak lain.

Ucapan Selamat
Selamat Hari Ulang Tahun ke-75 buat dosenku, guru besar, Pdt.Prof.Dr.J.A.B.Jongeneel. Selamat juga buat isteri, Ibu Magritha B. Jongeneel-Touw serta anak-anak Christian dan Michael. Saya -mengenal keluarga ini sewaktu mahasiswa Fakultas Teologi UKIT (1976-1980/1981). Semoga Prof. senantiasa dikaruniai kesehatan dan kemampuan untuk terus berkarya dalam gereja dan dunia pendidikan tinggi teologi, baik di Belanda maupun di Indonesia. Saya selalu mengingat bahwa saya memilih konsentrasi studi saya di bidang Teologi Sistematika, karena saya terkesan dengan pengajaran mata-mata kuliah Teologi Sistematika I sampai IV yang diampu oleh Prof. Karena itu, maka pada  penulisan skripsi Sarjana Muda yang berjudul “ Kyrie Eleison” (tahun 1979), dan pada penulisan thesis Sarjana yang berjudul “Sekularisasi. Suatu Studi tentang Pandangan Beberapa Theolog Barat, Pengaruh Sekularisasi di Indonesia dan Bagaimana Seharusnya Gereja-gereja di Indonesia”, (Desember 1981), saya mendapat bimbingan dari Sang Jubilaris. Yang sangat berkesan, selama proses penulisan thesis, kami lakukan dalam cara surat menyurat melalui pos udara. Sebab waktu itu, ‘Mner’ Jongeneel (panggilan kami bagi dosen laki-laki waktu itu) dan keluarga telah kembali ke Belanda. Teologi Sistematika dan Sejarah Gereja sangatlah berkaitan. Untuk itu, terima kasih kepada ibu Magritha yang mengampu mata kuliah Sejarah Gereja Umum 1 dan 2, Sejarah Gereja Asia (SGA).  Terima kasih pula saya haturkan, karena saya mendapat kepercayaan untuk mempersiapkan penulisan buku Penghormatan 75 Tahun ini. Sekali lagi, terimalah ucapan selamat serta harapan dalam bahasa daerah Minahasa dari saya dan keluarga Kapahang-Kaunang : “Pakatuan wo Pakalawiren” (Semoga Panjang umur dan Sehat Sejahtera selalu).
Daftar Bacaan
Cox, Harvey, The Secular City. New York: The Maxmillan Co., 1965
Hartono, Chris, Memahami dan Menghayati Kehidupan Jemaat Sekuler. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1977
Herlianto, Alkitab dan Ilmu Pengetahuan. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1978
Jongeneel, J.A.B., Catatan Kuliah Sistematika  di Fakultas Theologia UKIT, 1978
Melihat Tanda-Tanda Jaman. Laporan Konperensi Gereja dan Masyarakat. Jakarta : BPK Gunung Mulia,1976
Oranye, L. Sejarah Ringkas Theologia Abad XX. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1975
Tillich, Paul, Systematic Theology I. Chicago: The University of Chicago Press, 1964
---------------, Systematic Theology III. Chicago: The University of Chicagi o Press, 1964
Tinsley, E.J., Modern Theology I , Karl Barth. London : Epworth Press, 1973
---------------, Modern Theology 2, Rudolf Bultmann. London :Epwotrh Press, 1973
Williams, Colin, Iman Kristen dalam Abad Sekulir. Yogyakarta-Jakarta : Kanisius-BPK Gunung Mulia, 1975
Van Leeuwen, A. Th, Christianity  in World History. London : Edinburg House Press, 1964

*Dikutip dari thesis Sarjana Teologi yang berjudul “Sekularisasi. Suatu Studi tentang Pandangan Beberapa Theolog Barat, Pengaruh Sekularisasi di Indonesia dan Bagaimana Seharusnya Gereja-gereja di Indonesia”, Desember 1981. Judul ini dipilih atas arahan dari Pdt.Prof.Dr.Jan A.B.Jongeneel sejak menjadi dosen di Fakultas Teologi UKIT, dan dilanjutkan dengan saran-saran melalui surat menyurat saat Profesor Jongeneel sudah kembali ke negeri Belanda dan melayani sebagai Pendeta Jemaat di Leiden. Yang baru dalam tulisan ini adalah bagian Penutup. Tulisan ini dimuat dalam buku Ziarah dalam Misi. Buku Penghormatan 75 Tahun Pdt.Prof.Dr.Jan Arie Bastaan Jongeneel, SH. Diedit oleh Karolina Augustien Kaunang. Tomohon: UKIT Press, 2004