Kamis, 07 Maret 2013

INTERNATIONAL WOMEN'S DAY


MEMAKNAI HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 2013 *

Tidak banyak orang yang tahu bahwa tanggal 8 Maret adalah hari Perempuan Internasional (International Women’s Day). Jurnal Perempuan pernah menulis bahwa hari ini sebagai hari yang tidak populer, tentu di Indonesia. Hari yang populer adalah Hari Kartini (21 April) dan Hari Ibu (22 Desember).
Tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional pada tahun 1910 pada acara Kongres Perempuan Pekerja Internasional di Kopenhagen. Penetapan hari ini diusulkan oleh Clara Zetkin, seorang orator dan pendiri surat kabar De  Gleicheit (Persamaan), ia juga sebagai anggota International Ladies Garment Union dan anggota Partai Sosialis Jerman. Penetapan hari ini berawal dari aktivitas gerakan kaum buruh di seluruh Eropah dan Amerika Utara.
Kemudian pada tahun 1975 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaksanakan Hari Perempuan Internasional di kota Meksiko, sekaligus menetapkan tahun ini sebagai Tahun Perempuan Internasional. Selanjutnya menetapkan tahun 1975-1985 sebagai Dekade untuk Perempuan. Sejak saat itu, PBB merayakan setiap tahun dengan tema-tema a.l. Perempuan dan Perdamaian: Perempuan Memenej Konflik (2001), Perempuan dan HIV/AIDS (2004), Perempuan dalam Pengambilan Keputusan (2006), Perempuan dan Laki-laki Bersatu untuk Mengakhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (2009), Persamaan Hak, Kesempatan yang sama : Kemajuan untuk Semua (2010), Pemberdayaan Perempuan Desa _ Mengakhiri Kelaparan dan Kemiskinan (2012). Dan tahun ini bertema The Gender Agenda : Gaining Momentum
Mengapa hari ini didedikasikan khusus untuk perempuan? Ada dua alasan yaitu mengakui fakta bahwa terjaminnya kedamaian dan kemajuan sosial serta kegembiraan perempuan; dan menyatakan kontribusi perempuan kepada penguatan keamanan dan kedamaian internasional. Bagi kaum perempuan sedunia, simbolisme hari ini mempunyai arti yang luas yaitu kesempatan untuk melihat kembali sejauh mana mereka berjuang untuk persamaan, perdamaian dan pembangunan. Juga kesempatan untuk bersatu, membangun jejaring dan bergerak untuk perubahan yang penuh arti.
Beberapa hasil yang dicapai dalam memaknai perjuangan kaum perempuan internasional ialah ditetapkannya berbagai konvensi seperti a.l. Konvensi Internasional Penghentian Perdagangan Perempuan Dewasa (1934), Hak-hak Politik Perempuan (1946), Menghentikan Perdangangan Perempuan dan Anak (1948), Pengupahan yang Sama bagi Laki-laki dan Perempuan untuk Pekerjaan yang Sama Nilainya (1951), Perlindungan Kehamilan (1952), Kondisi Kerja Buruh Perkebunan (1958), Anti Diskriminasi dalam Pendidikan (1960).
Gerakan bersama ini ditanggapi positif oleh gereja-gereja sedunia melalui World Council of Churches (Dewan Gereja-gereja se-Dunia), DGD menetapkan tahun 1988-1998 sebagai Ecumenical Decade of Churches in Solidarity with Women (Dekade Ekumenis dari Gereja-gereja dalam Solidaritasnya dengan Perempuan). Ada empat perhatian penting yang memanggil gereja-gereja untuk menyatakan solidaritasnya dengan perempuan, yaitu – partisipasi penuh dan kreatif dari perempuan dalam kehidupan bergereja, - melawan tindak kekerasan terhadap perempuan dalam bermacam bentuk dan dimensi, - krisis ekonomi global dan pengaruhnya kepada perempuan, - xenophobia dan rasisme dan pengaruhnya bagi perempuan.
Mencermati sejarah gerekan perempuan dan perhatian dunia pada umumnya serta gereja-gereja sedunia pada khususnya, maka saya tertarik untuk untuk memperhadapkannya bagi kehidupan kaum perempuan masa kini di tanah Minahasa. Pertama, status dan peran perempuan dalam budaya Minahasa seperti terlihat a.l. dalam cerita rakyat Lumimuut-Toar dan tradisi/adat istiadat yang menempatkannya setara dengan kaum laki-laki, nilai kemanusiaannya dihargai sama. Pada tataran pemahaman ini, seharusnya tidak ada perlakuan yang tidak adil atau tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Kedua, berdasarkan hasil penelitian mahasiswa Fakultas Teologi UKIT dalam pembelajaran Teologi Feminis ditemukan kenyataan masa kini seperti a.l. kekerasan dalam rumah tangga. Kekerasan ini terjadi karena a.l. suami sudah punya ‘wanita idaman lain’, suami tidak boleh ditegur, suami mabuk dan kalah berjudi. Ketiga, masih dari hasil penelitian mahasiswa khususnya tentang perempuan dan ekonomi. Banyak perempuan/ibu yang menjadi pencari nafkah utama bagi keluarganya, terutama untuk kebutuhan anak-anaknya. Mereka adalah para ibu yang bekerja sebagai ‘tibo-tibo’ di pasar Tomohon, pedagang kaki lima di Manado dan tukang parkir di pusat perbelanjaan kota Manado. Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk bekerja seperti ini sejak ditinggalkan suami dalam waktu yang cukup lama tanpa kabar berita, ada pula yang ditinggalkan oleh suami karena suami sudah terlanjur berhubungan gelap dengan perempuan lain. Padahal anak-anak  membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orangtua. Penelitian yang terakhir ini menunjukkan dua hal. Pertama, perempuan punya potensi diri untuk pembangunan ekonomi keluarga. Dalam hal ini perempuan bukan hanya pencari nafkah tambahan. Perempuan yang seperti ini adalah tipe perempuan yang tidak mudah menyerah, dia  selalu siap berjuang mempertahankan apa yang menjadi haknya seperti hak mengasuh dan membiayai anak-anaknya. Dengan kekuatan dan ketrampilan yang Tuhan karuniakan kepadanya ia berjuang untuk anak-anaknya. Dia mandiri. Kedua, ada perempuan/isteri yang baru mengambil prakarsa untuk bekerja mencari uang dengan membuka usaha warung atau kantin, jadi tukang parkir, saat suami/laki-laki mengalami sakit atau sakit-sakitan, atau setelah suami meninggalkannya tanpa berita bahkan ada nyata-nyata meninggalkannya. Penelitian mahasiswa ini menunjukkan bahwa di tengah kemajuan jaman secara global dan di tengah masyarakat Minahasa yang berbudaya egaliter dan demokratis, terdapat pandangan dan perlakuan yang diskriminatif terhadap perempuan.
Harkat dan martabat kaum perempuan sebagai anak, isteri, ibu, anggota masyarakat dalam kehidupan bersama masih dipengaruhi secara signifikan oleh sistem masyarakat patriarkhat dan cara pandang androsentrisme. Kenyataan khusus dalam konteks masyarakat Minahasa, perempuan masih mengalami perlakuan yang tidak adil.
Di hari perempuan ini, marilah kita mengingat perempuan-perempuan yang menderita ketidak-adilan hak dan martabatnya. Kita mengingat mereka dalam doa dan karya. Kita berjuang untuk memperbaiki sistem  dan tata nilai kemanusiaan perempuan dalam kesetaraan dan keadilan dengan laki-laki. Kita mengundang laki-laki/bapak-bapak/suami untuk bekerja dan berjuang bersama membangun kehidupan yang bermartabat. Kita kembali kepada hakikat penciptaan yaitu bahwa Tuhan Allah mencipta manusia perempuan dan laki-laki sebagai Imago Dei.
Saya mengakhiri tulisan ini dengan mengutip sebuah surat yang saya terima pada 10 tahun silam (2003).
http://sphotos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-prn1/65912_10200909597044506_1613992919_n.jpg
Tomohon, 08 Maret 2013
*Naskah awal sudah pernah dipublikasikan dalam tabloid Inspitaror, edisi Februari-Juni 2012.

Jumat, 01 Maret 2013

Teologi Feminis di Fakultas Teologi UKIT


TEOLOGI FEMINIS DI FAKULTAS TEOLOGI UKIT *
(Pengalaman dan Refleksi)

Mengapa Teologi Feminis ?

     Berabad-abad lamanya, teologi-teologi yang dihasilkan/dirumuskan  menjadi dogma/ajaran gereja-gereja dan yang  dipraktekkan dalam hidup bergereja,  didominasi  oleh pikiran, perasaan, pengalaman, pergumulan dan harapan-harapannya kaum laki-laki yang sangat androsentris. Misalnya, sejak sekolah minggu kita mendapat pengajaran  bahwa anak Yakub ada 12 orang (Dina tidak terhitung karena dia perempuan), ada 3 nabi besar dan 12 nabi kecil yang semuanya laki-laki (padahal ada juga nabi perempuan seperti a.l. Debora dan isteri Yesaya), hanya ada 12 murid (laki-laki) Tuhan Yesus   (padahal ada juga Maria saudara Marta yang duduk dekat kaki Yesus mendengar-Nya mengajar). Terlalu lama kita mendengar  istilah Bapa-Bapa Gereja (the founding fathers) dalam sejarah gereja. Padahal ada juga kaum perempuan yang berperan dalam sejarah gereja seperti a.l. Perpetua (abad ke-3)  selaku pemimpin kelompok kecil orang Kristen. Ia menjadi martir, dibunuh karena tidak mau mempersembahkan kurban kepada dewa-dewa negara. Eudokia (abad ke-5)  yang pernah menulis dalam bidang sejarah gereja.   Pengaruh pengajaran gereja di atas sangat kuat sehingga  antara lain  sampai tahun 1970-an, masih ada gereja-gereja Protestan di Indonesia yang belum  menahbiskan perempuan menjadi pendeta walaupun ia tamatan sekolah teologi. Untunglah sekarang semua gereja-gereja anggota PGI sudah menahbiskan pendeta perempuan.  Meski demikian, masih ada diskriminasi bagi perempuan dalam peran dan fungsi pelayanan dalam jabatan seperti masih ada kesulitan bagi perempuan untuk dipilih atau ditetapkan menjadi pemimpin/ketua/kepala suatu institusi gerejawi selama masih ada kaum laki-laki yang mampu.
       Berbarengan dengan kenyataan di atas ialah budaya suatu masyarakat yang mengandalkan kuasa bapak/laki-laki (sistem patriarkhat) menjadi tolok ukur dalam memperlakukan kaum perempuan sebagai pribadi dalam keluarga dan masyarakat luas. Ambil contoh, adanya pembedaan dalam hal kerja : perempuan bertugas utama di rumah/dapur (urusan domestik yang berkaitan dengan kosmetik) sedangkan  laki-laki  bertugas utama di luar rumah, mencari nafkah (urusan publik). Dalam hal sifat, perempuan dilabeli penakut dan perasa (emosional) dan laki-laki dilabeli pemberani dan rasional. Pembedaan seperti ini yang sekarang kita kenal dengan istilah gender. Labelitas ini bukanlah kodrat, bukan kehendak Tuhan : perempuan dan laki-laki tidak dicipta Tuhan demikian. Dari contoh-contoh ini kita dapat simpulkan bahwa masih terlalu banyak orang yang belum dapat membedakan mana  peran dan fungsi yang berkaitan dengan seks (jenis kelamin biologis yang terberi sebagai laki-laki atau sebagai perempuan) dan inilah yang disebut kodrat, dan mana yang bukan kodrat melainkan gender (jenis kelamin sosial atau konstruksi masyarakat). Masih banyak hal yang dapat kita tambahkan atau daftarkan berdasarkan pengalaman, pengamatan dan bahkan pengetahuan dari tulisan-tulisan yang bias gender dalam keluarga, gereja/agama dan masyarakat.
     Baik agama maupun budaya membuat pembedaan   terhadap perempuan dalam segala aspek kehidupan. Perempuan masih mengalami perlakuan yang tidak adil, didiskriminasikan, dimarginalisasikan, disubordinasikan dan didominasi oleh sesamanya manusia (laki-laki). Inilah akar masalah terjadi ketidakadilan gender bahkan ketidak adilan manusia sehingga lahir upaya memahami diri dalam terang Firman Tuhan, atau upaya untuk mengetahui apa kehendak Tuhan mencipta manusia (perempuan dan laki-laki). Upaya ini yang berkembang dari waktu ke waktu dalam ranah pendidikan teologi menjadi Teologi Feminis. Namun demikian, teologi feminis atau lebih tepat berteologi feminis kemudian menjadi tugas bersama dalam rangka berteologi dalam jemaat secara perorangan atau secara lembaga gerejawi.
    

Siapa yang berteologi feminis ?

     Siapa saja yang peduli dengan masalah-masalah yang dialami oleh kaum perempuan, maka ia sedang berteologi feminis. Dengan demikian, maka berteologi feminis dapat dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Dalam kenyataan, masih ada kaum perempuan yang belum peduli akan hak dan martabatnya sendiri dan kaum sesamanya. Sebaliknya, sudah ada kaum laki-laki yang peduli akan masalah yang dialami oleh kaum perempuan. Dengan kata lain, tugas berteologi demikian adalah tugas bersama, tugas gereja, tugas semua orang.
       Dalam arak-arakan keesaan gereja-gereja sedunia, selang tahun 1988-1998 Dewan Gereja-Gereja Sedunia (DGD) mencanangkan sebagai “Dasawarsa Oikumenis Gereja-Gereja dalam Solidaritas dengan Perempuan”. Sidang Raya VIII  DGD di Harare, Zimbabwe-Afrika Selatan pada bulan Desember 1998 yang didahului dengan Pertemuan Raya Kaum Perempuan di kota yang sama pada bulan November, melihat bahwa masalah-masalah perempuan yang dialami oleh seseorang atau sekelompok orang di suatu tempat merupakan masalah  bersama. Dari sini lahirlah ungkapan “Your story is my story, your story is our story”. Kata kunci yang memotivasi gereja-gereja untuk bersama-sama mengatasi ketidak-adilan gender adalah solidaritas. Solidaritas dari semua orang untuk siapa saja (manusia dan alam) yang mengalami ketidakadilan. Mazmur 145:9 “TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya”.

Hakikat dan Tujuan Berteologi Feminis

     Teologi Feminis yang muncul di Amerika Serikat dan Eropah  adalah dampak dari gerakan emansipasi yang sudah lama berlangsung. Gerakan ini adalah gerakan yang memperjuangkan agar kaum perempuan dibebaskan dan membebaskan diri dari budaya patriarkhi yaitu laki-laki sebagai asal mula yang menentukan dan laki-laki mendominasi segala aspek kehidupan. Terjadi ketidak-setaraan kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Penindasan dan ketidak-adilan gender  terbanyak dialami oleh kaum perempuan, isteri, ibu dan anak perempuan. Dalam bidang teologi Kristen , gerakan ini disemangati oleh lahirnya teologi pembebasan di Amerika Latin. Teologi feminis merupakan salah satu bentuk dari teologi pembebasan. Sebagaimana teologi pembebasan lahir dari situasi konkrit di suatu tempat tertentu pada zaman tertentu, maka demikian jugalah dengan teologi feminis yang lahir dari pengalaman konkrit kaum perempuan (tentu dalam hubungannya dengan kaum laki-laki) dalam segala lini kehidupan. Baik teologi pembebasan maupun teologi feminis adalah bentuk-bentuk teologi kontekstual. Istilah teologi kontekstual diperkenalkan pada tahun 1970-an.
     Membicarakan hak dan martabat perempuan yang bermasalah tidaklah berdiri sendiri atau tidak mungkin dilepaskan dengan membicarakan sesamanya kaum laki-laki. Berdasarkan latar belakang dan hakikat munculnya  berteologi feminis seperti yang telah diuraikan sebelumnya, maka tibalah kita pada tujuannya, yaitu :
  1. Pembebasan Spiritual : perempuan yang selama ini terkungkung dalam “penjara” budaya dan agama harus dibebaskan. Pembebasan ini menyangkut semangat, ide, hak dan kewajiban sebagai ciptaan Tuhan Allah.
  2. Keutuhan Ciptaan : agar ada keadilan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dan antara manusia dan ciptaan lainnya (ekofeminis).
Pintu masuk pada pembelajaran Teologi Feminis ialah ‘gender awareness’ dan atau studi jender.  Bagian awal ini biasanya dilakukan dengan cara bercerita (tertulis atau lisan) tentang kehidupan pribadi sebagai perempuan atau sebagai laki-laki dalam keluarga, gereja dan masyarakat. Kemudian menganalasisnya atau mencari tahu mengapa hal-hal itu terjadi. Pengalaman pribadi-pribadi menjadi pengalaman bersama. Kerinduan, harapan dan cita-cita pribadi-pribadi menjadi kekuatan bersama untuk memperbaiki dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat/beradab.
Jadi, tujuan berteologi feminis bukan untuk menyamakan laki-laki dan perempuan atau untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk memperjuangkan kesetaraan dari yang berbeda  dan untuk keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan-Nya.

Buku-Buku Teologi Feminis di Indonesia
  1. Marianne Katoppo, Compassionate and Free. An Asian Woman’s Theology. Geneva : WCC, 1979.  Telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Tersentuh dan Bebas. Teologi seorang Perempuan Asia. Jakarta : Aksara Karunia, 2007
  2. Anne Hommes, Perubahan Peran Pria & Wanita dalam Gereja dan Masyarakat. Jakarta : BPK Gunung Mulia dan Yogyakarta : Kanisius, 1992.
  3. K.A.Kapahang-Kaunang, Perempuan. Pemahaman Teologis Tentang Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1993
  4. Stephen Suleeman, Bedalina Souk (peny.), Berikanlah Aku Air Hidup itu. Jakarta: Perhimpunan Sekolah-Sekolah Theologia di Indonesia, 1997
  5. Bendalina Doeka-Souk, Stephen Suleeman (peny.), Bentangkanlah Sayapmu. Jakarta : Persetia, 1999
  6. Marie Claire Barth-Frommel, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2003
  7. Deetje Tiwa-Rotinsulu, Augustien Kapahang-Kaunang (peny.), Perempuan Minahasa dalam Arus Globalisasi. Jakarta : Meridian, 2004
  8. Asnath Natar (peny.), Perempuan Indonesia Berteologi Feminis dalam Konteks. Yogyakarta: Pusat Studi Feminis Fakultas Theologia Universitas Kristen Duta Wacana, 2004.


Pembelajaran Teologi Feminis
         Sejak tahun ajaran 1991/1992, Teologi Feminis menjadi mata kuliah elektif dalam bidang studi Sistematika (Dogmatika) baik sebagai pilihan utama (mayor) maupun pilihan kedua (minor). Patut dicatat di sini peserta pertama yang mengambil mata kuliah ini ialah Neil Lapian, Meiva Lintang, Margaretha F. Lumanauw, Ria D.S. Luntungan, Verra B. Rambing, Djenny Ratuliu, Elvie Rau, Fonny G. Roring, Mariani E.C. Tampemawa, Ferny R. Walewangko, Lydia S. Waworuntu, Kartina Sambenaung, Muhamad R. Monoarfa, Ferdiand R. Waworuntu, Indriany Debora, Oyke Kamagi. * (mereka sekarang menjadi pendeta yang melayani di dalam gereja dan di dalam masyarakat. Yang melayani di masyarakat a.l.  Pdt. Meiva Lintang (Ny. Salindeho) sekarang sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Sulawesi Utara). Dalam perkembangannya, sejak tahun ajaran 1999/2000 mata kuliah ini menjadi mata kuliah wajib institusional sampai sekarang. Semua mahasiswa mengambil mata kuliah ini. 
       Dari tahun ke tahun, silabus pembelajaran direkonstruksi  baik menyangkut pokok-pokok bahasan, sumber pustaka maupun metode. Meski silabus selalu direkonstruksi, namun ruang lingkup pembahasan tetap sama yaitu tiga hal. Pertama, proses penyadaran gender. Bagian ini merupakan pintu masuk untuk melihat bersama melalui cerita masing-masing mahasiswa bahwa ada ketidak-adilan gender dalam keluarga, gereja/agama, masyarakat. Pada bagian ini juga dipetakan  kenyataan ketidak-adilan itu dengan cara mendaftarkan antara lain apa saja yang dipandang dan diperlakukan masyarakat tentang sifat, sikap, peran, fungsi perempuan dan laki-laki. Dari identifikasi dan pemetaan ini, kemudian dipisahkan mana sifat, sikap, peran dan fungsi yang disebut seks/jenis kelamin yang terberi (kodrat) oleh sang Pencipta, dan mana yang disebut gender atau jenis kelamin sosial yang diberi masyarakat. Sehingga para mahasiswa dapat membedakan  antara seks/kodrat dan gender. Proses penyadaran ini dilanjutkan dengan menganalisis dengan membandingkan antara lain dengan beberapa hal menonjol dalam ajaran dan praktek gereja/agama dan tradisi/budaya lokal. Pada bagian pertama ini mahasiswa bekerja secara pribadi dan berkelompok berdasarkan asal gereja dan atau etnis/budaya. Dari sini kita temukan bahwa dalam beberapa ajaran gereja/agama (baik perorangan maupun institusi) dan dalam tradisi/budaya “tua” lokal (tidak semua) selama ini menjadi penyebab terjadinya ketidak-adilan dan ketidak-setaraan gender. Kedua, proses mencari dasar teologis tentang keadilan dan kesetaraan manusia perempuan dan laki dengan melakukan kajian teologis dengan bantuan bahan-bahan bacaan hasil karya  para teolog feminis kontekstual  (dalam dan luar negeri). Sesuai dengan tempat mata kuliah ini dalam bidang studi Dogmatika, maka tema-tema tentang Allah/Yesus/Roh Kudus, Manusia/Keutuhan Ciptaan,  Gereja dan Praksis Bergereja mendapat penekanan dalam kajian ini. Pada bagian ini, mahasiswa bekerja dalam kelompok membahas tema yang dipilih/ditetapkan bersama. Kemudian saling share hasil kerja kelompok. Bagian kedua ini menjadi bahan acuan untuk evaluasi/refleksi teologis  dalam bagian ketiga. Ketiga, evaluasi atau refleksi teologis. Pada bagian ini mahasiswa kembali melakukan penelitian sesuai dengan isu yang dipilih atau melanjutkan pengamatan dan pengalaman awal yang telah diungkap pada bagian pertama. Hasil penelitian ini disusun menjadi makalah akhir pembelajaran yang berisi deskripsi data, analisis data, kajian teologis dan evaluasi/ refleksi teologis.

Tentang Penelitian Saya Tahun 1987-1989
      Saya ingat ungkap seorang teman pendeta senior saat berbicara tentang teologi feminis, katanya :  “di Minahasa tidak ada masalah dengan harkat dan martabat perempuan, sebab sudah diteliti oleh pendeta Augustien seperti yang tertulis dalam buku Perempuan, terbitan BPK Gunung Mulia Jakarta, 1993.” Juga seorang awam senior yang banyak berkeliling dunia mengatakan kepada saya : “Augustien, pandangan dalam bukumu itu tidak laku dalam percakapan internasional.” Terhadap kedua pendapat/komentar ini saya menganggukkan kepala. Penelitian saya ini adalah tentang pemahaman orang Minahasa menurut cerita rakyat dan adat istiadat. Jadi secara normatif, benar ungkap pendeta senior itu dan benar menurut sang awam itu. Ungkap sang awam tadi, benar, karena di dunia internasional sedang membicarakan berbagai kenyataan ketidak-adilan terhadap perempuan yang disebabkan oleh a.l budaya lokal. Sesungguhnya, penelitian ini telah membantah pandangan bahwa yang menyebabkan terjadi ketidak-adilan dan ketidak-setaraan gender adalah faktor budaya lokal. Masalah gender di Minahasa bukan karena budaya lokal, tetapi hal lain yaitu  budaya kontemporer dan ajaran/dogma gereja yang bias gender. Karena itu, salah satu bentuk teologi kontekstual ialah teologi feminis diperlukan. Berteologi feminis kontekstual mulai dengan menggali akar budaya setempat : apakah ada nilai postif yang berlaku universal ataukah hanya ada nilai-nilai mendiskriminasi perempuan. Yang positif menjadi kekuatan untuk terus memperjuangkan hakikat kemanusiaan yang setara, dan yang negatif harus diubah menuju kesetaraaan berdasarkan hakikat manusia ciptaan Allah.
      Jelaslah dari penelitian saya bahwa secara normatif,  budaya Minahasa adalah budaya egalitarian tetapi dalam praktek terjadi banyak masalah. Hal ini menjadi sangat kentara diungkapkan dalam bagian pertama pembelajaran teologi feminis dari waktu ke waktu sampai sekarang.  Apalagi para mahasiswa tidak hanya berasal dari Minahasa tetapi juga berasal dari berbagai etnis dan denominasi gereja. Tentang Minahasa masa kini saya tulis sebagai salah satu artikel dalam buku Perempuan Minahasa dalam Arus Globalisasi (2004) yang berisi antara lain bahwa ada kontinuitas dan diskontinuitas berkaitan dengan budaya.

Teologi Feminis dan Gerakan Pemberdayaan
         Bulan Mei 1995, para perempuan berpendidikan teologi dari seluruh Indonesia bertemu di Bukit Inspirasi Tomohon (kompleks Universitas Kristen Indonesia Tomohon) dalam acara Konsultasi Nasional Wanita Berpendidikan Teologi. Acara ini diselenggarakan oleh Biro Wanita Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA). Pada tanggal 26 Mei 1995 konsultasi ini melahirkan wadah yang bernama Persekutuan Wanita Berpendidikan Teologi (PERWATI, kemudian pada tahun 2007 bertempat di Sibolangit  berganti nama Persekutuan Perempuan Berpendidikan Teologi yang disingkat PERUATI). Lahirnya lembaga PERWATI/PERUATI yang dibidani oleh PGI dan PERSETIA menyatakan keterhubungan yang erat yang tidak dapat dipisahkan dengan misi gereja-gereja dan lembaga pendidikan teologi. Dalam perkembangannya, lembaga ini telah terstruktur sampai di daerah-daerah. Namun, harus selalu diingat bahwa lembaga ini bukanlah lembaga struktural melainkan lembaga fungsional atau sejenis lembaga profesi untuk saling memberdayakan demi  tugas pelayanan yang inklusif dan holistik. Dengan begitu, maka tata cara organisasi serta program/kegiatan harus sejalan dengan misi pemberdayaan ini : demokratis, inklusif dan holistik. Kepemimpinan di lembaga ini mustinya menjadi kepemimpinan yang berbagi (sharing leadership bukan sharing power), sehingga semua anggota terlibat dalam saling memberdayakan. Dengan kata lain, hakikat berteologi feminis yang secara formal dipelajari di pusat-pusat pendidikan teologi, pertama-tama harus nampak dalam gerakan bersama kaum perempuan untuk kemanusiaan yang utuh. Keberhasilan gerakan pemberdayaan perempuan  pertama-tama bukan pada makin banyaknya kaum perempuan yang menduduki jabatan penting dalam masyarakat seperti menjadi anggota legislatif, birokrat, pimpinan perusahaan,  pimpinan lembaga pendidikan (Kepala Sekolah, Dekan/Ketua, Rektor), pimpinan lembaga keagamaan/kegerejaan, melainkan pada semakin sedikit praktek ketidak-adilan dalam keluarga, agama/gereja dan masyarakat. Idealnya gerakan perempuan mengindarkan diri dari kesempatan untuk meraih posisi atau bahasa kasarnya meraih ‘kuasa’. Terlalu sering terjadi demi meraihnya terjadi sikut-menyikut dan sikat-menyikat di antara perempuan itu sendiri dengan antara lain menyusun berbagai prasyarat yang sangat berorientasi pada kekuasaan seperti a.l. sudah pernah menjadi pimpinan dalam tingkatan tertentu. Kecenderungan ini sangat nampak biasanya menjelang pergantian pimpinan baik aras nasional maupun daerah. Pertemuan makin sering dilakukan, percakapan tentang kepemimpinan makin mengemuka.  Hampir tidak beda dengan proses pemilihan untuk legislator dan kepala daerah. Cara ini dipraktekkan juga saat menjelang pemilihan pimpinan gereja. Pergumulanku ialah bukankah salah satu isu yang dikritisi oleh gerakan perempuan ialah cara-cara seperti ini ?
       Dari beberapa percakapan dengan teman-teman yang melayani sebagai pendeta di jemaat dan hasil penelitian lapangan oleh mahasiswa peserta mata kuliah Teologi Feminis diungkapkan bahwa praktek ketidak-adilan gender masih terus terjadi dalam keluarga, utamanya praktek kekerasan dalam rumah tangga (kdrt), trafiking perempuan dan anak. Oleh sebab itu, perjuangan untuk dua hal seperti yang menjadi tujuan pembelajaran Teologi Feminis yaitu pembebasan spiritual dan keutuhan ciptaan masih harus dikonkritkan dan terus diagendakan oleh gereja-gereja seperti antara lain oleh Komisi Perempuan Gereja bersama dengan Komisi Bapa, Pemuda, Remaja dan Anak-anak. Program bersama harus menyentuh akar permasalahan di aras basis seperti kaum perempuan dalam keluarga dan dalam masyarakat, anak-anak dalam rumah tangga dan pendidikannya, remaja/pemuda dalam pergaulan dan studi serta kariernya, kaum bapak dalam keluarga dan dalam masyarakat. Mengapa bapak-bapak juga? Dalam beberapa kesempatan berceramah tentang Peran Perempuan dalam Gereja dan Masyarakat pada kegiatan Pertemuan Wanita/Kaum Ibu GMIM dan Latihan Kepemimpinan Wanita Kaum Ibu GMIM (antara tahun 1995-2005), selalu ada peserta yang  berkomentar begini : “…saya sudah dapat membedakan apa dan bagaimana itu kodrat/seks dan jender, saya sudah tahu dari Alkitab bahwa perempuan dan laki-laki adalah Gambar Allah yang punya hak dan kewajiban yang sama… tetapi bagaimana dengan suami saya. Saya usul agar bapak-bapak juga diberi ceramah seperti ini…”
        Pada akhirnya, perumusan ulang ajaran agama/gereja yang bias gender harus menjadi pekerjaan bersama (perempuan dan laki-laki), agar supaya ajaran agama/gereja tidak menjadi alasan untuk membenarkan praktek ketidak-adilan gender.  Perempuan dan laki-laki adalah Imago Dei. Perempuan dan laki-laki ditempatkan dalam dunia untuk mengusahakan dan memelihara bumi yang adalah ibu bumi. “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31).

*Naskah asli telah diterbitkan dalam Karolina Augustien Kaunang, Denni H.R.Pinontoan (ed.), “Jerih Payahmu tidak Sia-sia”. 50 tahun (1962-2012) Fakultas Teologi UKIT dalam Jerih dan Karya. Tomohon : Fakultas Teologi UKIT, 2012, hlm. 103- 113.

Tomohon, akhir Agustus 2012
          

Kamis, 22 Desember 2011

HAWA dan MARIA (Refleksi Hari Ibu dan Hari Natal 2011)

HAWA dan MARIA (Refleksi Hari Ibu dan Hari Natal)
­
Setiap tahun di bulan Desember kita mengingat dan merayakan dua hari yang istimewa bagi kehidupan manusia pada umumnya dan bagi kaum perempuan pada khususnya yaitu Hari Ibu pada tanggal 22 dan Hari Natal Yesus Kristus pada tanggal 25. Penentuan tanggal yang bersamaan di bulan Desember ini tidak ada hubungan satu dengan yang lain. Saya yang coba menyandingkannya dan menghubungkannnya sebagai seorang perempuan yang berteologi dalam konteks. Dua nama yang menjadi judul refleksi ini sangat popular bagi umat Kristen, ya bagi hidup bergereja selama ini.
Ada pandangan dalam gereja-gereja tentang siapa dan bagaimana perempuan/ibu dan laki-laki/ayah yang dicipta oleh Tuhan Alllah ‘segambar dengan Dia’ (Latin : imago Dei). Ada pandangan yang memposisikan perempuan yang diperankan oleh Hawa sebagai penyebab kejatuhan manusia dalam dosa. Perempuan dipandang sebagai penggoda. Penampilan perempuan selalu dikaitkan dengan pandangan sebagai penggoda. Akibatnya ada banyak aturan etis yang dibangun untuk membatasi penampilan perempuan a.l. kita ingat lahirnya UU Anti Pornografi. Sampai sekarang UU ini menjadi kontroversi dalam pemberlakuannnya. Banyak pula orang Kristen/warga gereja menyetujuinya dengan alasan pandangan di atas. Di kalangan GMIM, kaum ibu gereja sering mengadakan lomba busana gereja. Di belakang ide itu tersirat upaya untuk mengatur penampilan perempuan. Untunglah hasil lomba-lomba itu hanya berhenti sampai di situ, tidak sampai menjadi peraturan pakaian beribadah. Artinya lomba itu mubazir, tidak berguna karena memang tidak harus diadakan, tidak ada dasar teologis apapun mengadakannya. Ada pula pandangan yang mengatakan bahwa perempuan adalah pembantu laki-laki sebagaimana layaknya hubungan atasan dan bawahan atau antara tuan dan hamba. Perempuan masih dilihat sebagai pelengkap penderita. Perempuan belum dilhat sebagai bagian integral dan utuh dalam kemanusiaan sebagai Imago Dei itu.
Pandangan-pandangan di atas antara lain yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Seorang teman pendeta laki-laki dalam khotbahnya menghubungkan nama Hawa dengan ‘hawa nafsu’. Sayapun dalam kesempatan membawakan pesan mengatakan bahwa nama Hawa berarti ibu dari semua yang hidup, tidak ada kaitan dengan hawa nafsu. Ada banyak isteri yang mengalami kekerasan oleh suaminya. Ada banyak anak perempuan yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh orang yang kenal dekat dengannya. Kekerasan ini ada dalam berbagai bentuk seperti seksual, fisik (pemukulan/penganiayaan), psikis dan ekonomi serta pendidikan. Menurut data tahun 2010 dari Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) mengungkap bahwa sepertiga (1/3) dari kekerasan ini adalah kekerasan seksual dalam bentuk perkosaan, perdagangan untuk tujuan seksual, pelecehan seksual, penyiksaan seksual, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, intimidasi/serangan bernuansa seksual termasuk ancaman/percobaan perkosaan, kontrol seksual termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama, pemaksaan aborsi, penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual, pemaksaan perkawinan termasuk kawin paksa dan cerai gantung.
Juga, kaum perempuan menjadi korban HIV/AIDS yang ditularkan oleh laki-laki/suami yang berakibat pada anak-anak. Perempuan diperjualbelikan (trafficking) menjadi pelacur. Pendek kata, perempuan yang kemudian menjadi ibu dari semua yang hidup tidak dapat mengaktualisasikan dirinya dengan baik dan benar menurut kehendak Penciptanya. Paham patriarkhat (bapa/laki-laki sebagai yang menentukan) dan adrosentrisme (laki-laki menjadi pusat) masih mempengaruhi cara pandang, cara pikir, cara berlaku/prilaku, cara bicara baik laki-laki maupun perempuan itu sendiri.
Pada kesempatan yang khusus ini yaitu merayakan Hari Ibu dan Hari Natal, saya ingin membagi beberapa pokok pikiran teologis yaitu :
1. Kaum perempuan dan kaum ibu sama berartinya dengan kaum laki-laki dan kaum bapak dalam melanjutkan kehidupan dari generasi ke generasi. Keduanya adalah penolong yang sepadan, setingkat dan semartabat. Keduanya mempunyai hak dan kewajiban yang setara, sederajat. Generasi baru yang berkualitas akan ditentukan oleh kesehatan dan pendidikan dari kaum perempuan/ibu. Sebab selama kurang lebih 9 bulan, kehidupan seseorang bermula dalam kandungan ibu.
2. Hari Ibu adalah hari khusus untuk mengingat hakikat dan peran para ibu agar para ibu terus ingat hakikatnya sebagai ibu dari semua yang hidup. Kandungan adalah tempat mengingat masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang dari semua yang merindukan kehidupan yang berkualitas atau bermutu baik. Kaum ibu harus terus berjuang untuk mengambil peran yang setara dengan kaum bapak dalam keluarga dan bangsa. Sekaligus mengingatkan anak-anak perempuan dan laki-laki (yang kemudian menjadi dewasa dan menjadi bapak/ayah) yang dilahirkannya bahwa ia ada/hidup karena ada ibu. Menghormati ibu berarti menolak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun terhadapnya dengan alasannya apapun. Kekerasan harus ditolak sebagai perbuatan dosa terhadap kemanusiaan perempuan (ibu dan anak perempuan). Hanya orang yang tidak menghargai kehidupan sebagai pemberian Allah Pencipta yang tega melakukan perbuatan dosa ini.
3. Hari Natal adalah hari bersejarah bagi semua orang dan hari khusus bagi kaum perempuan/ibu. Sebab kandungan yang dalam cerita kejatuhan manusia dalam dosa (Kejadian 3) mendapat hukuman, ternyata dalam cerita Natal Yesus, kandungan (melalui Maria) diberkati. Maria mengandung dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Yesus sebagai Juruselamat dunia yang kedatangan-Nya telah dinubuatkan oleh para nabi sebelumnya. Berbahagilah semua ibu yang mengandung dan melahirkan anak-anak. Bertanggungjawablah atas kehidupan anak-anak itu. Jangan sampai keguguran atau digugurkan atau jangan dibuang di tempat sampah. Cinta-kasih dari kaum laki-laki/suami/bapak terhadap ibu yang mengandung adalah tanda kesiapan turut bertanggungjawab memelihara dan memperkembangkan kehidupan pemberian-Nya.
4. Kaum ibu dalam keluarga biasanya menjadi pengelola keuangan keluarga. Mengelola keuangan keluarga adalah salah satu bentuk menghargai kehidupan. Kesehatan serta pendidikan anak-anak menjadi prioritas penggunaan keuangan keluarga. Hidup hemat sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan. Bagi yang berkelebihan, hal berbagi dengan sukacita menjadi salah satu tanda solidaritas dengan mereka yang berkekurangan. Kelahiran Yesus dari keluarga sederhana dan lahir di tempat yang sederhana, menjadi spirit hidup bersama dan berbagi.

Selamat merayakan Hari Ibu. Hawa : Ibu dari semua yang hidup. Maria : Ibu dari Juruselamat kita.

Selamat Hari Natal Yesus Kristus.

Minggu, 04 Desember 2011

MENGENAL DENOMINASI GEREJA

MENGENAL DENOMINASI GEREJA*


Pendahuluan
Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus yang terbentuk oleh karena kuat Roh Kudus yang dituangkan pada hari Pentakosta yaitu kira-kira pada tahun 30-an Masehi. Gereja ini ternyata masih tetap hadir dalam pentas sejarah dunia. Meskipun banyak hambatan yang dialami, gereja terus hidup. Kita mengenal adanya buku Sejarah Gereja Umum, Sejarah Gereja Asia dan Sejarah Gereja Indonesia bahkan kini sedang giat-giatnya gereja-gereja lokal menyusun sejarahnya.
Gereja yang hidup itu mengalami hambatan yang datang dari luar dan dari dalam dirinya sendiri. Hambatan dari luar datang terutama dengan adanya pertemuan antara Injil dan Kebudayaan-Kebudayaan. Artinya sebagai konsekuensi dari beradanya gereja di dalam dunia, maka mau tidak mau ia bersinggungan dengan kedinamisan budaya yang dilahirkan oleh manusia yang bergereja. Pertemuan itu sering menjadi negatif karenanya menghambat eksistensi gereja. Hambatan itu muncul antara lain karena adanya perbedaan pandangan yang tidak disikapi secara arif dengan dasar teologis alkitabiah sehingga berdampak pada perseteruan dan perpecahan.
Kenyataan sekarang ini telah banyak institusi/lembaga gereja yang muncul atau terbentuk karena perbedaan pandangan yang diartikan pertentangan pendapat. Hal ini diperkuat dengan terjadinya masalah-masalah kepemimpinan yang berarah pada ambisi jabatan dan masalah-masalah personal. Padahal perbedaan pandangan adalah suatu kenyataan alamiah yang adalah karunia Allah. Kenyataan akan perbedaan pandangan inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah Denominasi Gereja. Denominasi berarti “one of the different religious groups that you can belong to”, atau kaum/umat/golongan agama. Oleh sebab itu, marilah kita mengenal kenyataan kepelbagaian ini, dengan tujuan agar kita menerima kenyataan akan perbedaan yang dalam bahasa Dokumen Keesaan Gereja (DKG) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yaitu Saling Mengakui dan Saling Menerima. Artinya kita menerima kenyataan ini secara positif sambil tetap kritis atas motiv negatifnya.

Latar Belakang Sejarah

Sejak tahun 1054 terjadi perpecahan (schisma) besar dalam Gereja menjadi Gereja Barat dan Gereja Timur. Gereja Timur ini dikenal dengan nama Gereja Ortodoks. Gereja Barat pada tahun 1517 (tepatnya 31 Oktober) terjadi Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther. Reformasi ini yang menyebabkan gereja ini menjadi Gereja Katolik Roma dan Gereja Protestan. Gereja Katolik sedunia sama di mana-mana sebab pusatnya adalah Paus sebagai Pemimpin Gereja yang berpusat di kota Roma.
Reformasi Luther yang melahirkan gereja Protestan dalam perkembangannnya terpeta dalam beberapa tradisi berdasarkan penekanan ajaran dari para tokoh reformator seperti Luther (Jerman) dan Calvin (Swiss). Reformasi ini selanjutnya berkembang di Belanda dan Inggris. Dari Eropa dengan semangat Pietismenya (yang menekankan kesalehan pribadi, semangat penginjilan dan kritik terhadap gereja yang terlalu menekankan tata gereja dan rumusan-rumusan ajaran), penginjilan masuk ke sebagian besar daerah di Indonesia termasuk di wilayah pelayanan GMIM sekarang.

Gereja-Gereja Protestan di Indonesia
Gereja-gereja di Indonesia sekarang ini berasal dari berbagai latar belakang tradisi gereja dan penginjilan. Ada dua aliran besar yaitu : Ekumenikal dan Evangelikal yang masing-masing mempunyai pandangan-pandangan utama mengenai konsep Misi.
Ekumenikal :
- Teologi Kontekstual : berteologi dari dalam konteks sosial, kultural, politik dan ekonomi. Berteologi dalam rangka memberi jawab pada persoalan-persoalan yang dihadapi. Berteologi dari konteks ke teks (metode induksi).
- Teologi Misioner yang sistematis, yang berdasar pada misi Allah yang berpusat pada Gereja dan/atau pada dunia serta teologi misi dan teologi agama-agama.
- Teologi Praktis tentang misi seperti nyata dalam Pembinaan warga Gereja, Pemberitaan dan Komunikasi serta Keadilan dan Pelayanan Masyarakat. Tugas dalam masyarakat adalah ‘pengungkapan’ misi masa kini.
Evangelikal :
- Teologi Misi berwawasan Alkitab yaitu mengaktualisasikan Alkitab (teks) ke dalam konteks. Alkitab sebagai titik berangkat ke konteks (metode deduksi).
- Teologi Misioner yang sistematis, yang berdasar pada amanat agung Allah dengan penekanan pada orang Kristen lahir kembali sebagai subyek misi dan diperankan oleh Lembaga-lembaga gerejawi (para-church agencies).
- Teologi Praktis tentang misi yang diperankan oleh kaum awam untuk menjangkau yang tidak terjangkau agar gereja bertambah dan meluas. Tugas dalam masyarakat adalah ‘kelengkapan’ dari misi.
Dengan pemaparan perbedaan pandangan dari dua aliran ini, maka kita dapat mengidentifikasi diri, di mana gereja-gereja kita berada. Yang tergolong aliran/kaum Ekumenikal adalah gereja-gereja yang menjadi anggota terbanyak Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan lebih khusus lagi Gereja Protestan di Indonesia (GPI). Yang tergolong aliran/kaum Evangelikal adalah gereja-gereja yang menjadi anggota Persekutuan Injili di Indonesia (PII).

Gerakan Kharismatik
Istilah kharismatik diambil dari bahasa Yunani ‘kharismata’ (jamak) yang berarti karunia-karunia (Rm 11:29; Rm 12:6-8; I Kor 12:8-10; I Kor 12:8). Dalam buku Wilfred J.Samuel yang berjudul Charismatic Folk Christianity (Indonesia : Kristen Kharismatik), ditulis tentang gerakan kharismatik di Asia (Malaysia). Ia membedakan antara Gerakan Reformasi dan Gerakan Kharismatik. Gerakan Reformasi adalah koreksi terhadap teologi gereja (khususnya tentang pembenaran) dan penolakan atas praktek-praktek gerejawi yang tidak alkitabiah. Sedangkan Gerakan Kharismatik berusaha untuk berbicara tentang kekurangan dalam bidang-bidang moralitas pribadi, spiritualitas dan misiologi.
Gerakan kharismatik adalah dalam bentuk dan esensinya adalah replikasi (tiruan) dari gerakan Pentakostalisme (yang yang lahir tahun 1901). Namun Gerakan ini mengadopsi pola-pola kultural kontemporer yang kebanyakan menggugah emosi dan karenanya kurang akademis seperti yang nampak dalam ibadah-ibadahnya. Ekspresi dalam ibadah seperti 1. gerak tubuh (angkat tangan, tepuk tangan, menari, melompat-lompat di tempat, raut muka memelas apabila memohon, dll). 2. kewajiban selebratis (menyanyi berulang-ulang, menyanyi dengan suara keras, bersalam-salaman, penyanyi latar, berbahasa lidah, musik keras, dll).3. bentuk dan dekorasi interior yang artistik (spanduk, tempat khusus untuk penyanyi latar dan musik, dll). 4. pelayanan gerejawi (penumpangan tangan dengan bergetar, doa yang keras, meneking si jahat dengan nada memerintah, pengurapan dengan minyak, dll). 5. ekspresi linguistik dan penggunaan kata-kata populer (tanggapan ‘amin’ atau ‘puji Tuhan’, ‘tepuk tangan untuk Yesus’, ‘angkat tanganmu dan sembahlah’, dll).
.
Refleksi dan Penutup
Tentu saja tidak seorangpun yang dapat melakukan hal yang sama sekaligus. Masing-masing orang punya budaya, karakter, kebutuhan dan harapan tentang arti kehidupan beriman, sehingga yang harus sama dan jelas ialah apakah pandangan serta sikap beriman kita sesuai dengan Injil Yesus Kristus yaitu Keselamatan ? Pergumulan kita bersama ialah : apakah gereja-gereja termasuk GMIM telah dan sedang menjadi ‘wadah’ umat untuk menikmati keselamatan dari sang Kepala Gereja ?
Pola dan bentuk ibadah bukanlah alasan mendasar untuk berpindah-pindah keanggotaan gereja. Yang pasti pola dan bentuk ibadah gereja-gereja hendaknya tidak kaku. Hal itu tepergantung pada “ketrampilan” orang yang memenej, memimpin/melayani ibadahnya. Kita juga perlu bertanya, apakah memang kecederungan pindah-pindah keanggotaan gereja karena masalah liturgi ibadah atau karena hal lain seperti misalnya kurangnya pelayanan penggembalaan?.

Buku bacaan :
de Jonge, Christian, Gereja Mencari Jawab. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1997.
Jongeneel, J.A.B., “Kharismata, Gerakan Kharismatik dan Gereja-Gereja”, dalam
Gerakan Kharismatik Apakah Itu? Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1980.
Samuel, Wilfred,J., Kristen Kharismatik. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2006
Siwu, Richard,A.D., Misi dalam Pandangan Ekumenikal dan Evangelikal di Asia
1910-1961-1991. Jakarta :BPK Gunung Mulia, 1996.


Tomohon, 6 Oktober 2007


* Disampaikan dalam Acara Pembekalan Pelayan di Jemaat “Bukit Karmel” Batu
Kota Wilayah Manado Barat Daya pada hari Sabtu, 6 Oktober 2007
** Pendeta GMIM/Dosen Fakultas Teologi UKIT bidang studi
Teologi Sistematika/Dogmatika.

Rabu, 30 November 2011

25 Tahun Kemiteraan GMIM-EKHN

KESAN DAN PESAN
UNTUK BOOKLET PERINGATAN 25 TAHUN KEMITERAAN EKHN-GMIM 2011*

Saya baru satu kali berkunjung ke EKHN Jerman yaitu pada awal bulan Juni 2009. Kunjungan ini dalam rangkaian menghadiri Calvin Jubilee Celebration di Geneva Switzerland pada akhir Mei 2009 , kemudian ke Belanda berjumpa dengan kawanua dalam persekutuan Gereja Minahasa. Waktu itu rombongan kami dipimpin oleh Pdt.Dr.R.A.D.Siwu. Meski baru pertama kali berkunjung, namun saya dapat merasakan keterikatan kemiteraan yang kuat antara EKHN dengan GMIM. Yang saya maksudkan ialah kemitraan tidak pertama-tama dalam level sinodal dan karenanya hanya dengan Badan Pekerja Sinode (sekarang Badan Pekerja Majelis Sinode), tetapi pertama-tama dengan dan antar wilayah. Kekuatan kemiteraan menjelang 25 tahun (waktu itu tahun 2009) sangat terasa dengan perkenanan sinode EKHN mengundang kami melalui Pdt. R.A.D.Siwu. Artinya, kemiteraan ini telah menghadirkan sosok atau tokoh yang punya tempatnya yang khusus dalam komunikasi antar personal. Saya ketengahkan ini untuk melihat signifikansi atau sisi positif dari ketokohan seseorang atau beberapa orang dalam membangun komunikasi selama ini. Dalam pertemuan percakapan waktu itu, sempat dipertanyakan dan mempertanyakan tentang peran dan fungsi dari para komunikator masa kini. Sampai-sampai ada ungkapan (kira-kira demikian) : kalau masih orang( -orang) ini, maka bagaimana kemiteraan dapat terus diperkembangkan. Di balik ungkapan ini diceritakan apa yang sesungguhnya telah terjadi dalam komunikasi antar kedua belah pihak dalam kurun waktu dimaksud. Dalam percakapan inipun, saya tahu bahwa saudara-saudara di EKHN tetap mengikuti perkembangan, permasalahan dan perjuangan yang terjadi dan dihadapi oleh GMIM. Mereka prihatin dengan kondisi GMIM pada waktu itu. Situasi ini telah berpengaruh dalam komunikasi dan bahkan dalam program/aksi di tahun-tahun terakhir ini. Padahal menurut saya, betapapun ada masalah internal gereja, tetapi janganlah mempengaruhi kualitas kemiteraan di antara kita. Jadi, terpulang pada kualitas diri para ‘pemimpin’. Sayang sekali, sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, sejarah kemiteraan ini telah tercatat (meski baru pada tahap ‘cerita lisan’).
Kunjungan ini telah dirancang dengan baik sekali. Jadual selama 3 hari di Mainz dan Frankfurt kami jalani dengan baik. Tentu saya pribadi sangat antusias sebab baru pertama kali. Kami dijemput oleh Pdt.Martin Hindrich (yang sangat kami kenal), Pdt. Wilfried Warneck (Pendeta di Chrituskirche di Mainz), Pdt. Junita Lasut beserta suaminya Bapak Grover Rondonuwu. Saat ketemu kami langsung diserahkan jadual kunjungan selama 3 hari lengkap dengan peta. Segala sesuatu sudah diatur dengan jelas. Sudah dipersiapkan dengan matang kunjungan kami. Saya dan dua teman (Pdt.Krise Gosal dan Pdt.Marhaeni Mawuntu) menginap di pastori Pdt. Wilfried. Kami diterima dengan sukacita oleh isteri Pdt. Wilfried. Terima kasih atas keramah-tamahan keluarga Warneck.
Ada tiga program yang menarik bagi saya. Pertama, percakapan dengan pimpinan wilayah bertempat di kantor. Dalam kesadaran bahwa kedatangan kami bukan sebagai utusan GMIM, melainkan sebagai warga GMIM yang melayani di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT), maka percakapan kami terbatas sebagai sharing sekitar program kemiteraan. Kedua, kunjungan ke Universitas Gutenberg di Mainz (ini almamater Pdt.Prof.Dr.W.A.Roeroe). Kami bercakap-cakap dengan Dekanat Fakultas Teologi bidang studi Protestan. Dalam kesempatan ini, kami berkesempatan sharing tentang profil Fakultas Teologi UKIT. Sempat diungkapkan agar ke depan ada program pertukaran mahasiswa atau kunjungan kuliah tamu antar dua lembaga ini. Kunjungan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat Penebitan Alkitab yang tertua yaitu Gutenberg-Museum. Ketiga, berkunjung ke Frankfurt berjumpa dengan Pdt, Nita Lasut bersama suami Bapak Grover Rondonuwu. Kami diantar berkelililing kota Frankfurt. Sambil berkeliling, bercakap-cakap, saya mendapatkan sisi hebatnya pendeta Nita yang bercerita bagaimana pelayanannya di Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) di desa-desa dan kota Palu dalam situasi konflik berlatar agama sebelum ia menjadi misionaris di Jerman. Sengaja saya angkat cerita ini untuk memberi gambaran tentang perjuangan seorang misionaris perempuan yang melayani dari kampung sampai ke kota tersibuk di Jerman ini. Saya bangga mendengar dan menyaksikan perjalanan pelayanannya yang sangat ditopang oleh suaminya. Alasan kebanggaan saya terhadapnya juga karena dia adalah seorang perempuan yang berlatar belakang budaya Minahasa dan alumni dari Fakultas Teologi UKIT. Saya mengusulkan kepadanya agar mencatat segala cerita ini untuk dapat diterbitkan sebagai biografi seorang pendeta perempuan muda. Saya ingat ada sebuah buku biografi dari seorang pendeta perempuan berdarah Minahasa yang melayani sepanjang hidupnya di Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yaitu Pendeta Agustina Lumentut. Saya ketengahkan ini dengan visi agar ke depan ada banyak buku biografi yang menjadi bagian utuh dari sejarah gereja-gereja kita dan karenanya sejarah kemiteraan ekumenis kita. Kita bukan hanya ada history melainkan juga herstory yang menjadi ourstory.
Pesan untuk keberlanjutan yang interaktif dan dinamis. Pertama, memperluas jangkauan kemiteraan dalam segala aras baik teritorial jemaat dan wilayah maupun pelayanan fungsional seperti a.l pendidikan tinggi. Kedua, pimpinan gereja menjadi komunikator dan fasilitator yang terus terbuka pada kemungkinan baru. Dalam hal ini lebih banyak memberi kesempatan kepada warga gereja untuk mengalami kemiteraan itu.
Akhirnya, banyak terima kasih EKHN : Pdt. Hindrich dan keluarga,Pdt. Warneck dan keluarga, Pdt. Nita dan suami, Ketua wilayah. Selamat merayakan 25 tahun kemiteraan GMIM-EKHN.

*Tulisan ini dipersiapkan oleh Tim yang dikoordiner langsung oleh EKHN Pdt.Martin Hindrich.

Kepemimpinan dalam Perspektif Kristen

KEPEMIMPINAN DALAM PERSPEKTIF KRISTEN *
Oleh : Karolina Augustien Kaunang **

Pendahuluan
Ada banyak teori kepemimpinan. Teori-teori tersebut antara lain tentang karakter seorang pemimpin dan gaya kepemimpinan. Semua teori tersebut pastilah lahir dari suatu kenyataan atau pengalaman seseorang dalam konteks pribadinya. Tidak ada satu teori kepemimpinan yang ‘baku’, seolah-olah hanya ada satu yang tepat (benar) untuk semua orang dan untuk segala zaman dan dalam segala keadaan.
Pada kesempatan ini saya hanya menyampaikan dasar-dasar teologis (saya) sebagai usulan untuk diperkembangan dalam praktek kepemimpinan seseorang. Dasar-dasar teologis ini saya angkat dari pemahaman dalam hidup bergereja/berteologi (praksis) yang juga menjadi pengalaman hidup saya.

Dasar-Dasar Teologis
1. Gereja sebagai Tubuh Kritus dalam dunia.
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang percaya dan mempercayakan diri kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya dan dunia ini. Kepala Gereja adalah Yesus, Tuhan kita. Sedangkan kita manusia adalah anggota tubuh-Nya. Dasar Alkitab:
- I Korintus 12 tentang bermacam-macam karunia tetapi satu Roh, bermacam-macam anggota tetapi satu tubuh. Ayat 4 : “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya di dalam semua orang”. Ayat 27 : “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya”.
- Yohanes 15 : 1-8 tentang Yesus adalah pokok anggur yang benar. Ayat 5 : “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya …”
Jadi, kepemimpinan seseorang haruslah berdasarkan pada kehendak Tuhan Allah.

2. Karya Yesus.
Karya Yesus adalah menyelamatkan. Keselamatan dari Dia itu dinyatakan melalui pengajaran-Nya dan mujizat-mujizat-Nya. Ia mengajar di mana saja Ia pergi dan berada. Ia masuk keluar kampung di dan lewat darat dan laut/danau/sungai (dulu belum ada ‘kapal terbang’/pesawat). Ia mengajar siapa saja yang datang kepada-Nya. Ia mengajar dengan berkhotbah dan bercerita dengan perumpamaan. Keselamatan yang Dia ajarkan langsung diaktakan dengan memberi makan, menyembuhkan dan bahkan membangkitkan orang mati. Ia pula pernah marah besar dengan mengusir semua orang yang berjual-beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang (semacam money changer ?) dan bangku-bangku pedagang merpati (a.l. Markus 11 : 15-19). Karya-Nya yang terbesar ialah Ia rela menderita dan bahkan mati di kayu salib. Tetapi kemudian Ia bangkit.
Jadi, kepemimpinan seseorang adalah kepemimpinan yang melayani, memberdayakan, berprinsip dan siap berkorban (mengabdi dengan tulus, tanpa pamrih) untuk kehidupan orang yang dipimpinnya.

3. Gereja sebagai household of freedom.
Gereja sebagai rumah tangga kemerdekaan. Bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam komunitasnya. Perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama nilainya. Demikianpun dengan orang tua dan anak muda punya kesempatan yang sama dalam hal menjadi pemimpin. Galatia 5:1 : “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan”. Galatia 5:13 : “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”.
Jadi, kepemimpinan seseorang haruslah melibatkan semua orang tanpa pandang perbedaan apapun termasuk perbedaan gender dan usia.
Ketiga dasar di atas menjadi dasar teologis untuk membangun dan mengembangkan kepemimpinan seseorang. Setiap orang dengan latar belakang pengalaman hidupnya pribadi, dalam keluarganya, dalam komunitasnya dengan segala kemampuan yang terberi oleh Tuhan maupun melalui pelatihan-pelatihan khusus akan sangat menentukan isi dan cara kepemimpinannya.

Refleksi dan Kesimpulan
Sejak beberapa dekade terakhir ini terutama berbarengan dengan munculnya kesadaran tentang berteologi kontekstual dalam sekolah-sekolah teologi dan gereja-gereja, maka kaum perempuan (tanpa memandang perbedaan agama, suku dan ras) mengkritik berbagai hal berkaitan dengan kemanusiaan dan lingkungan hidup. Kemanusiaan manusia yang selama ini masih ditentukan oleh kuasa laki-laki (patriarkhisme/androsentrisme) dikritik oleh kaum perempuan. Patriarkhisme dan androsentrisme masih kuat diajarkan oleh sebagian besar agama/denominasi gereja. Sehingga kepemimpinan dalam masyarakat dan agama/denominasi gereja, masih sangat patriakhis/androsentris. Kepemimpinan ini tidak hanya disetujui dan dilakoni oleh kaum laki-laki tetapi juga kaum perempuan yang bias gender. Sebab itu, penting sekali kegiatan bersama yang dikenal dengan ‘gender awareness’ yang melahirkan ‘gender sensitifity’. Salah satu upaya untuk itu ialah dalam Sekolah-Sekolah Teologi anggota Perhimpunan Sekolah-Sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) dibelajarkan mata kuliah Teologi Feminis. Bagi saya, salah satu model kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam berbagai situasi, tempat dan waktu ialah kepemimpinan berbagi (sharing leadership bukan sharing power).

Daftar Pustaka
Alkitab
Barth-Frommell, Marie Claire, Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2003.
Kapahang-Kaunang, Karolina A., “Gereja dan Tata Gereja”, dalam Exodus
No.17 Tahun XII,November 2005. Jurnal Fakultas Teologi UKIT.
Rapar, Jan Hendrik, “Kepemimpinan Kristen Transformasional”, dalam Exodus
No.21 Tahun XIV, Februari 2007. Jurnal Fakultas Teologi UKIT.
Sumual, Marthen H., “Dare To Be Smart Leaders”. Materi Seminar Sehari dalam
rangka Dies Natalis 47 Fakultas Teologi UKIT, Oktober 2009.

Tomohon, 25 Februari 2011

* Disampaikan dalam Seminar di bawah tema : “Saling Belajar Untuk Menjadi Pemimpin Yang Handal” dalam program Pertukaran Mahasiswa Fakultas Teologi UKIT-Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng-Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Manado bertempat di STFSP pada Sabtu, 26 Februari 2011.
** Dekan Fakultas Teologi UKIT. E-mail : tienkaunang@yahoo.com. _______________________

GEREJA YANG INJILI

GEREJA YANG INJILI *
0leh : Pdt. Dr. Augustien Kapahang-Kaunang**

Kata Injili adalah kata sifat dari kata dasar Injil. Kata ini berasal dari kata Yunani “euanggelion” yang berarti berita sukacita, berita gembira, kabar baik. Dalam konteks agama Kristen, kata Injil berarti kabar sukacita tentang Yesus yang menyelamatkan manusia dan dunia ini. Dari kata Yunani “euanggelion” kita kemudian mengenal kata ‘evangelisasi’ yang biasa dipakai dalam lingkungan GMIM bila akan mengadakan ibadah kolom dengan mengatakan ‘torang mo evangelisasi’. Kemudian kita mengenal kata “evangelical” yang diterjemahkan dengan ‘Injili’. Kata sifat ini banyak dipakai sebagai nama gereja-gereja seperti antara lain Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Gereja Masehi Injili di Bolaang Mongondow (GMIBM), Gereja Masehi Injili di Sangihe dan Talaud (GMIST), Gereja Masehi Injili di Talaud (GERMITA), Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), Gereja Masehi Injili Timor (GMIT). Bila kita menelusuri latar belakang tradisi teologi dari gereja-gereja ini, kita dapati gereja-gereja ini berlatar tradisi teologi Reformasi (Reformed Churches) atau dalam bahasa Inggris dikenal istilah “Presbyterian” (Presbyterian Churches).
Apalah artinya sebuah nama atau identitas diri lalu tidak tahu apa tugasnya, bahkan selalu monitor dan evaluasi apakah sudah melaksanakannya. Nama penting tetapi harus diikuti dengan karya. Dari sini, kita dapat melihat fungsi Gereja yang sesungguhnya. Dalam kurun waktu 4 dekade terakhir ini, gereja-gereja antara lain melalui lembaga pendidikan teologi berbicara tentang berteologi kontekstual. Paradigma berteologi bergeser atau lebih tepat berlanjut dan menekankan pada aspek karya atau fungsi, manfaat, kegunaan dari pada hanya sampai (apalagi sekedar) pada mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan substansi, status dan kedudukan. Yang harus menjadi tujuan dari segala identitas atau jati diri adalah perannya atau fungsinya.
Pada kesempatan ini akan dicatat dua hal. Pertama, bertolak dari esensi Injil yaitu Yesus Kristus maka tugas gereja haruslah mengacu pada apa yang telah dan terus dikerjakan oleh Tuhan Yesus yang diakui sebagai Kepala Gereja. Ia mengajar dalam kata dan tindak tentang hal mengasihi bahkan menyelamatkan seperti antara lain dengan menyembuhkan, mengusir setan, memberi makan dan membangkitkan orang mati. Ia peduli pada hal-hal yang nampak dan yang langsung dirasakan oleh para pendengar/pengikut-Nya. Khotbah dan pengajaran-Nya adalah satunya kata dan tindakan. Tidak dibedakan apalagi dipisahkan antara dogma/ajaran dan etika serta praktika. Bila kita menelaah beberapa bagian Alkitab Perjanjian Lama yang berisi pengakuan iman umat Allah, hal itu lahir dari pengalaman hidup mereka dalam segala bidang seperti politik, ekonomi, perjumpaan dan interaksi dengan orang berbeda agama, hak azasi manusia (budak, orang asing, perempuan). Kita juga membaca dalam Alkitab tentang Tuhan Allah yang mengkritik cara beragama umat pada jaman itu seperti terungkap dalam kitab Amos dan Hosea. Beragama bukanlah hal status, melainkan hal akta atau perbuatan. Hidup beribadah seremonial liturgical harus berjalan bersama dengan perbuatan yang benar, adil, jujur, setia menurut kehendak-Nya. Kedua, gereja-gereja tersebut di atas berada bersama dalam arak-arakan keesaan gereja sedunia dan khususnya di Indonesia. Dewan Gereja-gereja se-Dunia memahami tugas panggilannya yaitu untuk memberitakan Injil (Yesus Kristus) kepada segala makhluk. Hal ini dinyatakan melalui program kerja di unit-unit pelayanan seperti Keesaan dan Pembaharuan; Kesehatan, Pendidikan dan Kesaksian; Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (rasisme, lingkungan dan ekonomi, hubungan internasional, perempuan, pemuda dan penduduk asli); pelayanan/diakonia. Sementara itu, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dalam Dokumen Keesaan Gereja yang disingkat DKG (sebelumnya Lima Dokumen Keesaan Gereja atau LDKG) mempersekutukan gereja-gereja anggota untuk melihat tugas kesaksian bergereja di dalam konteks berbangsa dan bernegara Indonesia pada umumnya dan dalam konteks lokal daerah khususnya. Secara khusus dalam dokumen Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama meliputi :
Keesaan yaitu membarui, membangun dan mempersatukan gereja
Bersaksi dan memberitakan Injil kepada segala makhluk
Berpartispasi dan melayani
Panggilan oikoumenis semesta
Hubungan dan kerjasama dengan semua umat beragama
Paparan di atas ini menunjukkan bahwa tugas gereja untuk memberitakan Injil (gereja yang injili) sangatlah luas dan dalam. Ke-injili-an gereja-gereja bukan terutama terletak pada ajaran/dogma dan program yang ‘rohaniah’ semata yang cenderung eksklusif, melainkan pada program konkrit yang ‘jasmaniah’, yang menyentuh kehidupan nyata setiap hari dan inklusif. Choan Seng Song, teolog Asia pernah menulis “misi Kristen harus menjadi misi kasih, bukan misi kebenaran”.
Gereja Masehi Injili di Minahasa atau dalam bahasa Inggris The Christian Evangelical Church in Minahasa (sengaja dicantumkan bahasa Inggrisnya untuk memberi perhatian pada Evangelical) dalam Tata Gereja 2007 Tata Dasar Bab I Pasal 1 memberi penjelasan tentang kata Masehi dan kata Injili.Artinya GMIM adalah Gereja milik Kristus (Al Maseh) yang tugasnya memberitakan Injil. Perjalanan GMIM sebagai organisasi menjelang 77 tahun bersinode, baru saja merayakan 180 Pekabaran Injil (PI) dan Pendidikan Kristen (PK) pada 12 Juni 2011. Namun demikian, GMIM sebagai persekutuan orang-orang yang percaya dan mempercayakan diri kepada dan di dalam Tuhan Yesus Kristus adalah Tubuh Kristus di dalam dunia. Secara organisatoris ia patut mengikuti ketentuan bermasyarakat, dan sebagai Tubuh Kristus kepalanya ialah Yesus Kristus sendiri. Menjalankan roda organisasi yang kepalanya adalah Tuhan Yesus menjadi profilnya (Tata Dasar Bab II Pasal 6). Dalam Tata Gereja tahun 1999 Peraturan Dasar Bab III Pasal 7 sangat jelas dicantumkan tentang Panggilan GMIM itu yaitu untuk a. selalu menguji keadaan GMIM, termasuk bentuk-bentuk pengungkapan ibadahnya, dan seluruh anggota GMIM, di bawah bimbingan Roh Kudus, untuk melihat sampai di mana keadaan GMIM, sesuai atau tidak sesuai dengan kehendak TUHAN, seperti diungkapkan dalam Firman Allah serta sepadan atau tidak lagi dengan tugas panggilan di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan hidup. b. secara realistis, terencana dan konsekuen, berusaha untuk melaksanakan pertobatan dan perubahan baik secara pribadi maupun persekutuan agar GMIM menjadi lebih sepadan dengan tugas panggilan di masyarakat dan lingkungan hidup. (kalimat-kalimat ini tidak lagi tercantum dalam Tata Gereja terbaru yaitu tahun 2007). GMIM bukan dari dunia tetapi ia ada di dalam dunia dan untuk dunia. Sebab itu, sebagai gereja yang injili ia harus selalu menguji dirinya. Sebagai gereja reformasi ia selalu mereformasi diri (ecclesia reformata semper reformanda).
Untuk memenuhi panggilannya itu, maka segala keputusannya (level jemaat, wilayah, sinode) selalu diuji dulu apakah sesuai kehendak Kepala Gereja. Bila keputusan telah diambil, perlu diuji kembali apakah telah sesuai kehendak-Nya. Dalam hal ini, GMIM senantiasa perlu melakukan aksi-refleksi bergereja. Dalam waktu lima tahun terakhir ini, banyak persoalan yang mencuat ke permukaan. Bukan sekedar kuantitas tetapi terlebih kualitas persoalannya. Kualitas persoalannya makin mengemuka karena mau tidak mau ia terekspose jauh keluar, ke ranah publik. Ini konsekuensi dari sebuah organisasi kemasyarakatan yang mau tidak mau terbuka seiring dengan tersedianya berbagai sarana komunikasi dan apa terlebih hakikat dari reformasi dalam dirinya sendiri. Bila para pelayan Tuhan yang dipercayakan secara khusus untuk menatalayan secara organisatoris dalam semangat transparansi dan demokrasi serta penegakan hukum dan keadilan tidak siap menguji dirinya sendiri, maka semangat reformasinya serta ke-Injili-an nya patut dipertanyakan. Bila ajaran/dogma dan program/kegiatannya tidak lagi berdasarkan teologi Alkitabiah, maka sepatutnya melakukan konsultasi teologi bersama untuk menemukan bersama pendasarannya. Bila para pelayan Tuhan tidak lagi dalam posisi sebagai “hamba yang melayani’, maka hakikat dirinya sebagai orang yang diurapi patut dipertanyakan.
Seratus delapun puluh tahun PI dan PK versi GMIM hendaknya ditempatkan dalam kurun waktu Injil disampaikan di tanah Minahasa hampir enam abad (sejak 1563). Sangat panjang perjalanan pekabaran Injil di tanah (adat) Minahasa. Ia bertumbuh, berkembang dan berbuah dan ‘layu’(bahkan sempat hilang) kemudian tumbuh dan mekar lagi di tengah terpaan angin sepoy-sepoy sampai angin badai. Demikian perjumpaan Injil dan kebudayaan di tanah Minahasa.
Gereja yang Injili adalah hasil karya Roh Kudus yang dituangkan pada semua orang percaya pada hari Pentakosta yang baru saja dirayakan pada minggu, 12 Juni 2011 bersamaan dengan HUT PI dan PK GMIM tersebut di atas. Sebagai hasil karya Roh Kudus, maka buah Roh akan menjadi tolok ukur yang menyatakan bahwa gereja-gereja yang Injili tetap bermisi dalam kuat kuasa Roh Kudus. “ …buah Roh itu ialah : kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri… Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.” (Galatia 5: 22-26). Bila di dalam bergereja masih ada dan dipraktekkan (apalagi secara sistematis) perbuatan daging yaitu “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraaan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Galatia 5 : 19-21a), maka bergereja yang demikian tidaklah mungkin menjadikannya sebagai Garam dan Terang dunia.
Hari raya Pentakosta dan HUT ke-180 PI dan PK GMIM (12 Juni 2011) adalah waktu Tuhan bagi GMIM untuk beraksi dan berefleksi (menguji dan menilai diri sendiri sesuai dengan Firman Tuhan). Marilah kita berdoa : Ya Tuhan, baharuilah dan persatukanlah kami oleh dan di dalam kuat kuasa Roh Kudus. Semoga demikian.


* Diterbitkan dalam Harian Tribun Manado pada hari Minggu, 19 Juni 2011
** Dekan Fakultas Teologi UKIT